"Negara Gagal, Masyarakat Harus Bangkit "
Suara Merdeka
SEMARANG- Masyarakat Indonesia harus bangkit menolong diri sendiri. Negara tidak lagi bisa diharapkan untuk menyejahterakan rakyatnya, karena beban yang terlalu besar.
''Negara kita makin lumpuh akibat terlalu banyak beban. Tanpa formula penyelesaian yang tepat, dalam beberapa tahun ke depan kita akan kolaps. Indonesia akan terhindar dari kehancuran kalau masyarakat mampu bangkit untuk menolong diri sendiri,'' kata pakar pemerintahan Prof Dr M Ryaas Rasyid MA di Semarang, Sabtu (3/2) malam.
Dia berbicara selaku ketua umum Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (Perhimpunan KB PII) Pusat di depan peserta Muswil III Perhimpunan KB PII Jateng di Hotel New Metro. Dikatakan, beban negara di saat krisis sekarang menjadi terlalu besar karena selama ini sektor negara terlalu dominan.
''Semua tergantung pada negara, masyarakat tidak punya inisiatif, sehingga negara makin lumpuh ketika banyak masalah yang harus diselesaikan,'' kata mantan Menteri Negara Otonomi Daerah itu.
Ketua Asosiasi Ilmu Pemerintahan Indonesia (AIPI) itu menyebutkan ciri-ciri negara yang mendekati kegagalan.
Yaitu kekayaan sumber daya (resources) yang tidak terkelola dengan baik, program-program pemerintah yang salah sasaran, dan birokrasi yang terlalu gemuk sehingga tidak lincah bergerak untuk mengatasi masalah.
Problem terbesar Indonesia dalam jangka pendek, lanjutnya, adalah besarnya jumlah rakyat miskin yang mencapai 100,6 juta jiwa atau hampir separo dari jumlah penduduk.
Lalu, jumlah penganggur mencapai 20 juta. Sementara kebijakan negara bergerak seperti tanpa arah, investasi rendah, dan sektor manufaktur mandek.
Beban negara menjadi semakin berat dengan fakta tingkat pendidikan sebagian besar penduduk Indonesia (60 persen) yang hanya tamat SD.
Akibatnya Indonesia sudah mulai tertinggal dengan Malaysia dan Filipina.
Untuk mengatasinya, katanya, selain diperlukan formula solusi yang tepat dan ''revolusi'' di bidang pendidikan, masyarakat juga harus mampu memobilisasikan dirinya agar bangkit.
Hasil Muswil
Ia meminta para anggota ormas yang dipimpinnya ikut mendorong kebangkitan masyarakat dan tetap mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah.
Muswil yang sekaligus reuni para mantan aktivis PII itu berlangsung dua hari, 3-4 Februari. Pada sidang pemilihan Minggu pagi kemarin, para utusan pengurus cabang se-Jateng secara aklamasi memilih H Ahmad Zaini Bisri SE sebagai ketua umum/ketua formatur Pengurus Wilayah Perhimpunan KB PII Jateng periode 2007-2010.
Wartawan Suara Merdeka itu menggantikan ketua lama Drs H Achmadi yang menolak untuk dicalonkan kembali.
Dalam tahap pencalonan sebenarnya muncul dua nama kandidat. Calon lain adalah Drs H Ahmad Fadlil Sumadi SH MHum. Namun pejabat di Mahkamah Konstitusi (MK) ini selain tidak berdomisili di Semarang, juga hanya diusulkan oleh satu cabang sehingga dinyatakan gugur.
Dalam pidatonya, Zaini Bisri mengajak jajaran KB PII Jateng agar berperan sebagai perekat umat Islam. Para eks aktivis PII, katanya, harus berdiri di tengah dan bergerak netral di antara kelompok-kelompok umat Islam. (H7,A11-60)
Monday, July 2, 2007
Harba PII (8)
Posted by
Rakanda
at
9:34 AM
0
comments
Labels: Harba PII
harba PII (7)
Kepemimpinan & Manajemen IPDN Harus Segera Dibenahi
Tim Independen Serahkan Rekomendasi ke Presiden Senin Ini
Pikiran Rakyat
BANDUNG, (PR).-Rekomendasi tim independen untuk Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dijadwalkan akan diserahkan ke Presiden RI, Senin (21/5) ini. Berdasarkan hasil evaluasi, tim merekomendasikan tiga hal fundamental yang perlu dibenahi dalam penyelenggaraan pendidikan di IPDN, yaitu kepemimpinan, manajemen, dan sistem pendidikan.
”Kami dijadwalkan bertemu presiden besok (21/5), untuk menyampaikan rekomendasi tersebut,” kata Ketua Tim Independen untuk IPDN, Ryaas Rasyid, usai mengikuti acara peringatan Hari Bangkit (Harba) Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) ke-60, di gedung Pusat Pengembangan Penataran Guru Ilmu Pengetahuan Alam (PPPG IPA), Jln. Diponegoro, Minggu (20/5).
Mengenai isi rekomendasi tim independen yang tebalnya mencapai 70 halaman tersebut, Ryaas tidak banyak berkomentar.
Namun, kata dia, tim independen tidak menyarankan pembubaran IPDN. ”Tidak ada usul yang mengarah kepada pembubaran IPDN,” ucapnya.
Ryaas mengaku tidak akan berkomentar panjang lebar soal isi rekomendasi sebelum rekomendasi tersebut disampaikan kepada presiden. ”Secara prinsip, saya tidak bisa kasih tahu sebelum presiden menerimanya. Masa, orang lain tahu lebih dulu dari Beliau. Yang pasti, kami memberi waktu dua tahun untuk mengaplikasikan rekomendasi tersebut,” ujarnya.
Meski begitu, Ryaas menyebutkan tiga hal fundamental yang perlu dibenahi di IPDN. Ketiga hal itu, lanjut dia, memiliki keterkaitan satu sama lain. ”Semua peristiwa di IPDN terjadi karena adanya kegagalan kepemimpinan, manajemen, dan sistem pendidikan,” katanya.
Tidak akan terulang
Bila semua rekomendasi yang diberikan tim independen dilaksanakan, Ryaas menjamin peristiwa kekerasan, apalagi hingga menelan korban jiwa, tidak akan terulang lagi di IPDN.
Perubahan sistem kepemimpinan di IPDN juga akan berpengaruh kepada pejabatnya, yang nanti akan diputuskan presiden.
Selama melakukan analisis lembaga IPDN, Ryaas mengaku tidak mendapat banyak kesulitan, sehingga waktu satu bulan dinilai telah cukup untuk menghimpun semua informasi yang dibutuhkan.
”Awalnya mereka memang sedikit bungkam. Tapi menjadi terbuka, setelah mereka menyikapi kejadian kemarin (kasus kematian praja Cliff Muntu - red) sebagai yang terakhir kali terjadi, dan mereka tidak lagi menoleransi kesalahan,” ujarnya.
Mengenai kabar, posisi dosen IPDN Inu Kencana akan ditingkatkan, menurut Ryaas, masalah itu tidak menjadi urusan tim. ”Itu diatur oleh intern mereka, tim independen tidak mencakup soal itu.”
Begitu pun soal pelaksanaan sensus mahasiswa yang dilakukan jajaran IPDN pekan lalu, Ryaas menegaskan, hal tersebut bukan bagian dari tugas tim independen. ”Itu hanya tugas internal sehari-hari saja untuk mengetahui berapa persisnya jumlah mahasiswa yang tinggal,” kata Ryaas. (A-158)***
Posted by
Rakanda
at
9:23 AM
0
comments
Labels: Harba PII
Harba PII (6)
Pilkada Langsung Lompatan Demokrasi
Suara Merdeka
JEPARA- Bangsa Indonesia sudah sepakat untuk menempuh pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat sejak Juni 2005. Pilihan ini hendaknya disikapi secara konsisten, jangan mau kembali ke model pemilihan lama oleh parlemen, karena langkah tersebut merupakan lompatan demokrasi.
''Di negara-negara maju yang mengklaim sebagai negara paling demokratis pun, pemilihan langsung oleh rakyat masih merupakan cita-cita,'' kata Sekretaris Umum Pengurus Wilayah Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (Perhimpunan KB PII) Jateng, H Ahmad Zaini Bisri SE di Jepara, Rabu (31/5).
Hadir Asisten I Sekda Drs Poniman, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Heri Purwanto yang juga tokoh KB PII Jepara, anggota PII dan KB PII, sejumlah kepala SMP dan SMA, serta perwakilan OSIS.
Dijadikan Evaluasi
Berbicara dalam acara Peringatan Hari Bangkit (Harba) Ke-59 PII di Cafe Madani Kalinyamatan, Zaini Bisri yang juga wakil ketua Mapilu-PWI Jateng mengatakan, kalaupun ada kekurangan dengan pelaksanaan pilkada langsung hendaknya dijadikan evaluasi untuk perbaikan.
''Sejauh ini ada dua kelemahan pokok pilkada langsung, yaitu munculnya kapitalisasi dan jaminan kualitas kepala daerah terpilih,'' kata mahasiswa Program Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Diponegoro ini.
Biaya pilkada yang mahal, katanya, ternyata tidak selalu menjamin kualitas kepala daerah yang terpilih. Ia mencontohkan gonjang-ganjing Pilkada Kabupaten Pekalongan, calon yang menang ternyata masih menghadapi ujian moral terkait foto-foto porno.
Zaini selanjutnya berpesan kepada seluruh anggota KB PII di Jepara untuk ikut mengkondisikan Pilkada Jepara yang fair, aman, damai, dan berkualitas. Anggota PII juga diingatkan agar jangan eksklusif, melainkan pluralis, sehingga mampu berperan dalam pembinaan masyarakat pelajar.
Bupati Hendro Martojo meminta anggota PII dan KB PII untuk mengambil peran strategis dalam pembangunan Jepara. ''Banyak bidang yang memerlukan partisipasi masyarakat, karena itu saya berharap agar anggota PII dan KB PII ikut berperan dalam pembangunan daerah Jepara,'' katanya dalam sambutan yang dibacakan Asisten I Sekda Drs Poniman. (A14-29)
Posted by
Rakanda
at
9:20 AM
0
comments
Labels: Harba PII
harba PII (5)
Indonesia Jangan Jadi Kuli Bangsa-Bangsa Di Dunia
klik ini
Banjarmasin ( Berita ) : Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII), A.Hakam Naja mengingatkan semua elemen dan komponen bangsanya agar jangan menjadi kuli di antara bangsa-bangsa dunia.
“Untuk itu sejak dini kita harus menyiapkan generasi bangsa kita mendatang agar lebih berkualitas serta bisa kompetitif pada masa mendatang,” ujarnya pada Hari Bangkit (Harba) ke-60 PII Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan 2007 di Banjarmasin, Minggu [14/05] malam.
Perasiapan generasi bangsa dimaksud antara lain dengan terus berupaya meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan dari tingkat dasar hingga lanjutan sampai perguruan tinggi.
Hakam yang juga Wakil Ketua Komisi X DPR-RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) itu mengaku miris melihat perkembangan dan kepedulian bangsa-bangsa lain dalam hal pendidikan pada kurun waktu beberapa tahun belakangan ini.
“Sebagai contoh kalau dulu Malaysia banyak mengirim orang untuk studi di Indonesia, seperti di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, tapi kini terbalik yaitu kita yang berguru ke negeri jiran tersebut,” ungkapnya.
Dalam contoh tersebut, Wakil Ketua Komisi X DPR yang juga membidangi pendidikan itu mengungkap perbandingan angka-angka, seperti di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, warga negara Indonesia (WNI) yang studi tercatat 2.500 orang, sementara Malaysia 5.000 orang.
“Warga Malaysia yang studi di negeri ‘piramit’ itu semuanya atas biaya pemerintah negara mereka, tapi bagaimana Indonesia,” lanjut salah seorang Ketua Pengurus Pusat Keluarga Besar PII tersebut dengan nada menyindir.
Begitu pula WNI yang studi di Amerika Serikat (USA) tercatat 17.000 orang, sedangkan dari negeri jiran Malaysia yang menimba ilmu di negeri “Paman Syam” itu tercatat 50.000 orang.
“Oleh sebab itu, ke depan harus lebih serius menyiapkan SDM generasi bangsa untuk menghadapi persaingan bangsa-bangsa internasional. Karenanya insya Allah secara bertahap kita kirim pelajar studi keluar negeri dengan jumlah besar,” tandasnya.
“Karena sekarang saja Indonesia sudah kemasukan tenaga ahli dari asing, seperti bidang kedokteran dan ilmu-ilmu sosial lainnya,” demikian Hakam.
Memberikan sambutan Sekda Kalsel, Drs.H.Muchlis Gafuri serta Walikota Banjarmasin, H.A. Yudhi Wahyuni yang pada pokoknya menekankan arti pentingnya pendidikan bagi generasi muda bangsa.
Oleh karena itu, kedua petinggi Kalsel dan Banjarmasin tersebut minta PII untuk senantiasa konsiten dalam menimba ilmu guna peningkatan mutu SDM ke depan yang pernuh dengan berbagai tantangan.
Harba ke-60 PII Kalsel yang berlangsung di Aula Kayuh Baimbai Pemko Banjarmasin itu, juga mendapat hiburan kesenian daerah Madihin oleh pasang Jumairi dan M.Said Adani (ayah dan anak) juara I festival Madihin se provinsi tersebut tahun 2006.
Lantunan syair madihin dari Said yang baru selesai kelasa VI sekolah dasar itu membuat gelak tawa pengunjung, termasuk tamu dari Ibukota Negara Jakarta. ( ant )
Posted by
Rakanda
at
9:17 AM
0
comments
Labels: Harba PII
Harba PII (4)
PII Tetap Netral
Taufiqur Rahman
Alhamdulillah, Pelajar Islam Indonesia (PII) telah merayakan hari bangkit (harba)-nya yang ke-58 pada 4 Mei 2005 lalu. Ini merupakan momentum untuk menentukan tolak ukur perjuangan PII yang selalu eksis dan memberikan kontribusi positif dalam ranah pendidikan dan kebudayaan. Orientasi perjuangan PII sejak dicanangkan dalam mencetak generasi yang mampu berkompetisi di segala lini, perlu dipertahankan dari virus kepentingan.
Di balik keberadaan organisasi ini, mesti ada prinsip yang ditanamkan kepada seluruh kader agar pada suatu saat nanti menempati posisi sterategis di segala aspek kehidupan. Alumni PII, harus mengaplikasikan nilai perjuangan dengan tetap memegang teguh idealismenya seperti pada saat menjadi aktivis PII. Bukan sebaliknya menggadaikan idealisme demi kepentingan sesaat.
Kebanggaan sebagai seorang kader terkadang menyeruak ke permukaan sehingga secara bombastis memanfaatkan peluang untuk merayakannya. Indikasi ini yang kami tengarai dalam menanggapi ucapan selamat oleh pasangan calon gubernur dan calon walikota (Ismet Ahmad - Habib Aboe Bakar Al-Habsy; Yudhi Wahyuni - Alwi Sahlan; Sabri Noor Herman - Amanul Yakin; Edwan Nizar - Suripno Sumas) selama dua hari (BPost, 4 dan 5 Mei).
Ucapan selamat yang mereka berikan, kami rasa bukan klaim untuk menegaskan PII beserta alumni dan kadernya wajib mendukung. Kami sangat bangga dan berterima kasih kepada mereka atas respon positif terhadap perayaan Harba PII tahun ini. Semoga ini adalah bukti komitmen mereka sebagai keluarga besar PII untuk sama-sama mewujudkan kemajuan pendidikan dan kebudayaan. Sebagaimana termaktub dalam falsafah gerakan PII, yaitu kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam bagi rakyat Indonesia dan seluruh manusia.
Namun, PII sebagai organisasi yang mengemban misi membentuk kader yang siap duduk di berbagai posisi strategis di struktur bangsa ini, tetap akan bersikap independen dan netral terhadap prosesi politik yang berjalan. PII akan tetap konsisten untuk mengandung dan melahirkan putra-putri terbaik untuk terjun di segala lini kehidupan. Selamat Hari Bangkit ke-58 PII.
Taufiqur Rahman
Kadid DPMP PW PII Kalsel
Jl PHM Noor Gg Manggis RT 06/II Barabai
Posted by
Rakanda
at
9:14 AM
0
comments
Labels: Harba PII
Harba PII (3)
PII Peringati Harba ke-60
Hasil Liputan
Tanggal 4 Mei 1947 menjadi tonggak sejarah lahirnya sebuh organisasi bernama Pelajar Islam Indonesia (PII). Terdorong oleh dualisme sistem pendidikan di kalangan umat Islam Indonesia, PII berjuang dan menghasilkan sejumlah kader yang visioner seperti Prof Ryas Rasyid.
Tahun ini, 60 tahun kemudian, Hari Bangkit (Harba) PII diperingati secara di Kota Bandung, Ahad (20/5). Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh bidang pendidikan, politik, sosial dan anggota pengurus wilayah Perhimpunan Keluarga Besar PII.
''Acara ini bertemakan pacu karya, raih prestasi, jadi pelajar unggul bersama PII,'' ujar Ketua PW Perhimpunan KB-PII, Oma Wihardja Mansyuri. Melalui tema ini, kata dia, PII ingin berpesan bahwa sebagai Muslim, kita wajib berkarya dan bekerja keras untuk meraih prestasi.
elajar dan bekerja, kata Oma, merupakan kewajiban bukan tujuan. Selain itu, belajar dan bekerja adalah aktualisasi keimanan dalam bentuk amal shaleh.
Para pendiri PII, sambung Oma, merupakan orang-orang yang visioner. Karenanya ia yakin anggota PII mempunyai jiwa dan semangat yang sama.
Selain mengadakan seremoni peringatan, dalam kaitan Harba juga akan diadakan lokakarya dakwah Islam berbasis budaya Sunda. Kegiatan ini baru sebatas pembekalan kepada dai dari berbagai kalangan untuk mengenal bilai-nilai yang ada dalam budaya Sunda. Dengan demikian, akan memudahkan dai dalam menunaikan tugasnya berdakwah, begitupun dalam pendidikan. ( ren )
Sumber Republika
Posted by
Rakanda
at
9:08 AM
0
comments
Labels: Harba PII
Harba PII (2)
PELAJAR ISLAM INDONESIA SEBAGAI ASET KEKAYAAN BANGSA INDONESIA
oleh Syahrial Faza
Hari ini Organisasi PII (pelajar Islam Indonesia) telah genap berusia 60 tahun. Sebuah usia dimana sesorang sudah memasuki kehidupan masa lanjut dan sudah selayaknya memasuki masa-masa penuh istirahat, berkumpul dengan keluarga atau dengan orang-orang yang disayangi. Namun, keadaan diatas itu hanya berlaku bagi kebanyakan manusia yang telah memasuki masa pensiun dari aktivitas kerja maupu dengan segala kepenatan hidup. Sedangkan bagi sebuah organisasi dakwah seperti Pelajar Islam Indonesia, usia ”setua” itu justru dituntut lebih banyak dituntut berperan lebih aktif lagi baik di semua lini kehidupan masyarakat. Pengertian aktif disini adalah sebuah proses maksimalisasi kontribusi komitmen keislaman dan keindonesiaan mulai dari lingkup kepengurusan terkecil misalnya struktur komisariat sampai di tingkat nasional dengan struktur Pengurus Besar nya.
Proses maksimalisasi keaktifan PII seperti di atas kemudian diterjemahkan lagi ke dalam kegiatan-kegiatan yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Karena gerakan organisasi jika ingin diterima masyarakat harus bisa dirasakan menyentuh segala aspek kehidupan masyarakat di semua lingkungan. Masyarakat akan menerima baik PII jika PII memberikan sumbangsih di lingkungan tempat PII berada. Seperti program KPP (Komite Peduli Pelajar) PII di Yogyakarta dan Klaten beberapa waktu lalu ketika Yogyakarta dan Klaten di guncang gempa. Program KPP PII yang memfokuskan pada bidang pendidikan pelajar yang tertinggal di daerah yang terhenti aktivitas pendidikannya. Dengan memberikan bantuan berupa sarana dan prasarana untuk para pelajar, PII benar-benar di terima di sana dengan baik.
Namun terkadang dilingkungan sekitar kita banyak sekali dinamika pergerakan masyarakat khususnya pelajar yang tidak sesuai dengan visi dan misi PII seperti banyak perilaku para pelajar yang tidak sesuai dengan mentalitas bangsa Indonesia yang selalu mengutamakan nilai-nilai agama dan menjunjung budaya adiluhung. Sudah sering kita temui beberapa masalah -masalah sosial yang menimpa para pelajar. Diantaranya adalah perilaku kriminal seperti tawuran, mengkonsumsi minuman keras maupun narkoba yang nantinya berakibat pada aksi-aksi kriminal lain. Masalah moralitas juga mengancam para pelajar seperti free sex sampai aborsi.
Melihat kedaaan demikian, kita sebagai bagian dari elemen masayarakat lainnya seharusnya bisa menawarkan sebuah solusi agar para pelajar tersebut terhindar dari beberapa masalah yang telah dsebutkan diatas. Sebenarnya para pelajar tersebut juga membutuhkan tempat untuk menyalurkan berbagai ekspresi yang mereka miliki, karena pada dasarnya saat-saat usia pelajar mereka mulai menapaki masa pubertas atau masa dimana penuh gejolak, ekspresi yang jika tidak tersalurkan dengan baik mereka akan mencari bentuk-bentuk penyaluran ekspresi lain yang tentunya bisa juga menimbulkan efek atau masalah sosial lain.
Sebagai salah satu organisasi pelajar yang berbasis pada nilai-nilai keislaman, dan kepelajaran. Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia Jawa Tengah (PW PII Jateng) bisa mengambil peran agar bagaimana para pelajar tersebut bisa terhindar dari perbuatan-perbuatan yang meresahkan masyarakat. Oleh karena itu, PW PII Jateng merasa perlu mengadakan sebuah kegiatan yang bisa dijadikan sebagai sarana untuk memfasilitasi para pelajar tersebut agar dapat menyalurkan segala ekspresi yang tentunya berkaitan dengan nilai-nilai keislaman sehingga tersalurkan dengan baik.
Setelah beberapa konsep diatas dilakukan maka langkah selanjutnya adalah merumuskan beberapa strategi yang bisa dijadikan pedoman-pedoman bagi perkembangan PII selanjutnya. Pertama,pengurus diperbanyak pelajar tingkat SLTP maupun SLTA di level PD (Pengurus Daerah), atau PK (pengurus Komisariat) karena dua tingkat kepengurusan diatas yang menjadi motor pergerakan PII di masyarakat. Atau jika terdapat mahasiswa agar lebih intensif lagi dalam hubungannya dengan pelajar. Sebagai contoh misalnya ketua daerah punya temen ketua OSIS di daerahnya, atau brigade punya banyak kawan yang pandai dalam bidang olahraga. Dengan demikian maka tingkat interaksi dan komunikasi antar pelajar dengan pengurus PII akan semakin intensif sehingga setiap kebutuhan dari pelajar akan semakin mudah terserap dengan baik.
Jika sudah demikian maka langkah kedua adalah melakukan pemetaan berbagai kebutuhan pelajar yang menjadi kebutuhan pokok. Langkah pemetaan ini bisa dilakukan dengan memprioritaskan beberapa masalah-masalah pelajar yang terjadi di daerahnya. Tentunya setiap daerah atau tempat terdapat beberapa masalah yang berbeda-beda. Setelah ditemukan berbagai masalah tersebut maka diperlukan komunikasi lanjutan dengan elemen-elemen lain dalam pelajar untuk bersama-sama memecahkan masalah tersebut di lingkungan masing-masing. Langkah kedua ini bisa dilanjutkan dengan mengajak berbagai elemen pelajar lain (IPPNU,IRM, OSIS atau organisasi pelajar lainnya) untuk membentuk forum tersendiri atau aliansi yang kedepannya bisa menjadi pioner perubahan dalam memecahkan beberapa maslaah tadi.
Misalnya, masalah UAN yang sampai sekarang masih menjadi masalah bagi pelajar lainnya. Menurut penulis, banyak pelajar lainnya yang masih takut untuk menyuarakan aspirasi mengenai kelangsungan UAN. Bagi PII, apakah benar itu merupakan masalah atau keinginan pelajar? Pada kenyataannya banyak terjadi pro kontra di masyarakat karena standar nilai yang terlalu tinggi. Hal hal inilah yang seharusnya direspons oleh organisasi pelajar lainnya terlebih bagi PII karena merupakan organisasi pelajar yang benar-benar netral sehingga mudah bagi PII untuk bisa mengakomodasi berbagai kepentingan pelajar lainnya.
Ada perbedaan yang sangat mencolok pada saat pergerakan PII di awal-awal revolusi kemerdekaan Indonesia, masa G/30-S/PKI masa pemberlakuan asas tunggal pancasila untuk semua organisasi di Indonesia. Masa -masa ini yang menyebabkan PII ditekan oleh orde baru. Tapi, pada zaman reformasi sekarang tuntutan PII lebih riil yaitu kontribusi apa PII untuk membantu pelajar. Sekarang PII sudah lama jauh dari pelajar sehingga PII tidak mengetahui kemauan pelajar atau tidak dinamis dengan dunia pelajar. PII harus bisa menjawab persoalaan itu. Sekarang sudah saatnya PII masuk kedalam dunia pelajar menyertai dan menyelami masalah pelajar. PII akan terpublikasikan sendiri jika benar-benar menyelami masalah realitas pelajar.
PII itu adalah kekayaan bagi pelajar Indonesia . ada nilai-nilai penting di PII yang harus selalu dijadikan pegangan yang yaitu , leadership,,jiwa independen, pengembangan sikap militansi,dan sikap kritis berbagai hal. Itulah yang Insya Allah akan membawa pelajar dalam membangun masa depan Indonesia.
Syahrial Faza, Aktivis PW PII Jateng, alumnus FISIP UNDIP
Posted by
Rakanda
at
8:56 AM
0
comments
Labels: Harba PII
Harba PII
Pendidikan; Jawaban Atas Keterpurukan Bangsa
Oleh Ibn Ghifarie
"Pendidikan merupakan jawaban atas keterpurukan bangsa. Bukan dengan cara membagi-bagikan uang?", demikian ungkap Ryaas Rasyid, Ketua Pusat Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB-PII) dalam acara Tasyakur peringatan Hari Bangkit (Harba) Perhimpunan KB-PII ke-60 bertajuk `Pacu Karya, Raih Prestasi, Jadi Pelajar Unggul bersama Pelajar Islam Indonesia (PII)` di gedung Pusat Pengembangan Penataran Guru Ilmu Pengetahuan Alam (P3G IPA), Minggu (20/5).
‘Ini yang mesti dikritisi oleh PII dan tanggung jawab PII dalam menyelesaikan keterpurukan bangsa`. jelasnya.
Menyoal kemiskinan yang sedang melanda indonesia Ia berpendapat, "Indonesia tidak layak dikategorikan miskin, sebab kekayaan melimpah luah, SDA (Sember Daya Alam-red) masih tersedia, dan orang-oarang kaya raya pun banyak di negara kita".
"Nah segala persoalan ini bermula dari Pemimpin yang tidak amanah dan amburadulnya menejemennya", paparnya.
Untuk itu, Tasyakur Harba tak hanya perayaan saja, tetapi harus menjadikan pendidikan sebagai gerakan, bukan program tahunan semata. Apalagi bagi PII yang konesn terhadap dunia; pendidikan, dakwah dan pemberdayaan ekomoni keumatan, tambahnya.
Lain halnya dengan Ganjar Kurnia, Rektor Unpad (Universitas Padjadjaran) Bandung. Selain pendidikan yang harus di utamakan dalam memperbaiki kondisi Indonesia. Rekontruksi pemikiran dan keumatan menjadi modal utama, ungkapnya. "Semuanya ini harus berawal dari insyaf ketika bertindak untuk bertangungjawab", tegasnya.
Perhelatan akbar ini mendapat perhatian lebih dari keluarga besar PII baik yang muda maupun tua. Terlihat dari kehadiran mantan Pengurus Wilayah (PW) sekaligus Pengurus Besar (PB) PII Jawa Barat seperti Utomo Dananjaya, dan Dalianur. Meski ada kehawatiran atas kemerosotan kader-kader PII ditengah-tengah persaingan organisasi pelajar.
"Jangan takut dengan kondisi seperti ini. Apalagi tidak ada kader. Sebab saatnya pelajar harus menjadi objek, bukan subjek", ungkap Masdum, ketua PW PII dalam sambutannya.
"Siga kieu lantaran PII (keadaan seperti ini berkat PII). Diadakanya acara Harba PII Ke-60 ini guna melajutkan kiprah pendiri PII seperti Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Amien Syahri dan Ibrahim Zarkasji serta merenungkan kembali kejayaan islam dan keindonesiaan", kata Aa Tarsono selaku Ketua Pelaksana.
Tentunya, tidak lupa pada lemah cai PII setelah tak aktif jadi pengurus PII dan sekian tahun beraktivitas di luar PII. Maka Harba moment silaturahmi dan reunian guna mempererat persaudaraan di kalangan Keluarga Besar PII, tambahnya.
Senada dengan Aa Tarsono. Oma Wiharja Masyuri, ketua Pengurus Wilayah Perhimpunan KB-PII menjelaskan acara ini merupakan usaha meneruskan cita-cita para pendiri PII untuk mencapai tujuan PII `Kesempurnaan Pendidikan dan Kebudayaan yang sesuai dengan islam`
"Meski dengan berbagai keterbatasan. Semoga kegiatan ini dapat bermakna dan berguna bagi kemaslahatan umat", ungkapnya. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok P3G IPA, 20/18.39 wib
Posted by
Rakanda
at
1:05 AM
0
comments
Labels: Harba PII