Miftah, ”PII tidak Buka Mulut”
Pikiran Rakyat
BANDUNG, (PR).-Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PKB PII) Jabar sebaiknya tetap konsisten melakukan dakwah amar makruf nahi mungkar di segala bidang. Karena dakwah amar makruf nahi mungkar merupakan kewajiban bagi setiap Muslim dan sekarang ini ada kecenderungan sebagian Muslim tidak melaksanakannya secara baik.
Demikian dikemukakan penasihat PKB PII Jabar Dr. K.H. Miftah Faridl dalam acara silaturahmi Idulfitri PKB PII Jabar, di Masjid Al Ihsan Darul Hikam, Jln. Ir. H. Juanda Bandung, Sabtu (28/12).
K.H. Miftah Faridl mengatakan sejak didirikannya pada 48 tahun silam, para aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) dikenal militan dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar, baik ketika menghadapi rezim Orde Lama maupun Orde Baru. Tatkala Orde Lama, PII menjadi bulan-bulanan Partai Komunis Indonesia (PKI). Di kala masa Orde Baru, PII dibubarkan karena menolak asas tunggal Pancasila.
"Tetapi, anehnya pada zaman reformasi, ketika orang lain mulai berani buka mulut, ternyata PII tidak buka mulut," ujar K.H. Miftah Faridl.
Dikemukakannya, bila upaya amar makruf nahi mungkar sudah berakhir atau dianggap tidak layak dilakukan, itu bermakna dunia sudah berakhir. Maksudnya, dunia ini sudah kiamat, sedangkan kemungkaran akan ada sepanjang kehidupan jagat raya ini.
Seraya mengutip firman Allah SWT dan sabda Rasulullaah SAW, K.H. Miftah Faridl mengatakan umat Islam itu akan mendapat status khairu ummah atau umat terbaik apabila mampu memelihara budaya amar makruf nahi mungkar. Demikian halnya sabda Rasulullah menyatakan manusia terbaik di mata Allah adalah manusia yang paling banyak melakukan silaturahmi dan manusia yang istiqomah dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar.
Pada bagian akhir ceramah tausiah-nya, K.H. Miftah Faridl mengatakan dalam alam reformasi sekarang ini, kondisi belum berubah ke arah yang lebih baik. Bahkan, dalam beberapa sektor kehidupan, kondisi lebih buruk dibandingkan pada zaman Orde Lama dan Orde Baru. Oleh karena itu, sebagai Muslim yang pernah terlatih dalam organisasi dan budaya militan PII, hendaknya tidak pernah surut dalam perjuangan menegakkan amar makruf nahi mungkar sesuai posisi dan kapasitas masing-masing.
Mediator-katalisator
Sementara itu, salah seorang pengurus PKB PII Jabar Ir. H.D. Sodik Mudjahid, M.Sc., mengatakan PKB PII Jabar hendaknya segera menetapkan fokus garapannya serta perannya secara baik. Untuk itulah PKB PII Jabar perlu menjadi mediator dan katalisator berbagai kekuatan, terutama di bidang politik. Karena, hal itu didasarkan pada kenyataan banyaknya sebaran aktivis PII yang kini menjadi tokoh dan kader di berbagai parpol.
"Dengan begitu, diharapkan keberadaan mereka di parpol dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi umat dan bangsa Indonesia demi izzul Islam wal Muslimin," tuturnya.
Selain itu, PKB PII Jabar perlu tetap bersikap konsisten melaksanakan pendidikan dan pengkaderan dalam meningkatkan mutu SDM, caranya ialah melalui berbagai bidang dan bentuk kegiatan. Hal ini didasarkan atas pertimbangan historis misi awal PII serta faktor strategis bidang sumber daya manusia (SDM), seperti banyaknya kader PII yang mengelola lembaga pendidikan.
"PKB PII Jabar perlu membentuk semacam komite penegak amar makruf nahi mungkar yang melakukan pemantauan dan aksi pencegahan tindakan mungkar baik yang terjadi di eksekutif, legislatif maupun di tengah masyarakat," tutur Sodik Mudjahid. (A-44)**
Monday, July 2, 2007
PII
Posted by
Rakanda
at
9:31 AM
0
comments
Labels: PII
Wednesday, March 14, 2007
Ngeja PII
Oleh Adinda Ihsani Putri
jadi dulu gw pas smp kelas 2, diajak bonyok ikut training di Cicalengka...yang kebayang, kayak training2 nya PAS Salman gitu...pas dateng, pemandangan yang didapetnya, gedung sekolah tua, kotor, angker, banyak orang yang gayanya unik dan gw gak kenal...ternyata Leadership Basic Training...
penderitaan yang punya makna besar...secara gw dulu manja banget ma umi-abi (bonyok)gw...gw dikirimin tiker, selimut, susu...padahal orang2 disana pada bawa baju aja paling ma alat tulis...gw merasa parah waktu itu...diskusi demi diskusi gw lewatin...walaupun aneh, masa gw harus diadu ngomong ma anak SMA, kuliahan...beurat...tapi akhirnya gw beresin seminggu disana...
kenal Iqbal...anak tasik yang ngasih gw impression disana...walaupun dah ngilang tah kmana...
kenal Eksa, Bang Jay...dan ternyata gw pertama kali ketemu ma my last (amiin) disana juga...tapi dulu gw blom kenal...kenal banyak lah...
gw ikut bareng uki (abang), ucan, fia (sepupu) dan ita (sodara jauh) gw...
trus...6 bulan kemudian gw ikut Latihan MAnajemen Dasar...di Bandung...seneng banget...gw wktu itu lagi di PK Coblong...PK yang garing...tapi mutu lah gara2 orang2nya keren2...haks...
2003 gw jadi ketua korda PII Wati Kota Bandung...awal tahunnya, gw ikut Leadership Intermediate Training...inloknya Ka Erlan...disitu gw mulae bkenal2 ma Imron...dst..sst...it's private!
2004 gw jadi kabid internal...2005 ikut SDPN di jogja...ikut Konwil juga di TAsik...masuk deh ke PW PII Jabar...ketuanya namanya Masdum...
sempet ikut banyak kegiatan...simple sih...tapi mutu...gw ngerasa banyak belajar banyak...
tapi sekarang2 gw lagi bad mood di PII...yah...itu masalahnya...bosenkah? atau apa ya? kayaknya gw aja yang lagi ngaco...forget it!
pokoknya ni organisasi keren bgt! the best ever!
oia, gw pnah ke Ambon gara2 kut Muknasnya PII lho...asik...
sumber http://ndajugasemesta.blogs.friendster.com/nda_adin_ndaduth_teteh_ay/
*Penulis Pengurus PW PII Wati Jabar. Kini, sedang kuliah di ITB
Posted by
Rakanda
at
11:28 AM
0
comments
Labels: PII
Wednesday, February 28, 2007
Asaz Tunggal
Menyibak Pergulatan Azaz Tunggal di Tubuh PII
oleh Admin
Asas tunggal Pancasila tidak lagi menjadi soal. PII mendaftarkan diri kembali di Departemen Dalam Negeri.
Sekitar 250 mantan aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia), yang rata-rata berusia setengah abad, berkumpul di Madrasah Tsanawiyah Negeri Desa Kanigoro, Kecamatan Keras, Kediri, Jawa Timur, 18-19 januari silam. Mereka menggelar reuni, sarasehan, sekaligus mengenang kembali Kanigoro Affair, yang terjadi 10 Ramadhan 32 tahun silam. Bendera hijau dan lambang-lambang PII pun kembali berkibar setelah cuti hampir 10 tahun.
Kanigoro Affair tercatat sebagai sebuah tonggak sejarah yang menandai munculnya gelombang amuk PKI dalam ikhtiarnya membungkam kekuatan nonkomunis. Program mental training yang diikuti 127 kader PII Jawa Timur, 9-17 januari 1965, di Kanigoro pun menjadi salah satu sasarannya. Massa PKI melabrak arena latihan kader-kader santri itu dan melakukan teror. Program organisasi PII itu pun terpaksa dihentikan pada 13 Januari (10 Ramadhan). Para peserta menyingkir.
Masduki Muslim, 55 tahun, ketua PII Kediri awal tahun 1960, mengaku telah lama merindukan reuni itu. “tapi kok ndak sempat-sempat,” kata Masduki, salah satu pemrakarsa pertemuan ini. Yang istimewa dalam acara tersebut, bendera dan simbol pii secara mencolok dikibarkan dan sejumlah pejabat hadir -di antaranya ialah Kepala Staf Kodam V Brawijaya Brigadir Jenderal Moechdi, Komandan Korem Surabaya Kolonel Syamsul Ma’arif, dan jajaran Musyawarah Pimpinan Daerah (MUSPIDA) Kabupaten Kediri.
Rupanya PII telah kembali menjadi anak « manis ». Organisasi pelajar islam ini telah mengubah anggaran dasarnya dengan mencantumkan Pancasila sebagai asasnya, dan mendaftarkan diri ke Departemen Dalam Negeri pada 9 Desember lalu,“ini melegakan. Semua peserta sarasehan menyambut gembira. Kami mengharap Pengurus Besar PII menindaklanjutinya agar PII kembali eksis,” kata Masduki.
Sebelas tahun lalu, PII adalah salah satu dari sejumlah organisasi berlabel Islam yang menolak pelaksanaan asas tunggal Pancasila yang diamanatkan Undang-Undang Keormasan 1985. Tapi satu demi satu organisasi-organisasi itu menerima asas tunggal, termasuk di antaranya Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), yang kendati alot akhirnya menyetujui UU Keormasan itu. PII terus bertahan. Sampai tenggat yang digariskan oleh Pemerintah, yakni akhir 1987, PII tetap enggan mengubah anggaran dasar dan rumah tangganya dengan mencantumkan Pancasila sebagai asas organisasi. Keruan saja organisasi pelajar islam itu terhapus dari daftar organisasi kemasyarakatan resmi di departemen dalam negeri. Tapi PII tak pernah bubar.
Tanpa status sebagai organisasi resmi, roda organisasi PII tentu tersendat. Kantor wilayah PII Jawa Timur di jalan Kupang Panjaan, Surabaya, tampak rombeng. Ketua PII Jawa Timur Mohammad Soddiq mengakui tak tahu jumlah anggotanya. Sejak terpilih maret tahun lalu, ia baru sempat menggelar satu kegiatan, yakni “latihan kepemimpinan” di Sumenep, Madura. Untuk kegiatannya, Soddiq merasa tak bisa meminta izin dari aparat keamanan. “Kami harus diam-diam, kadang nebeng kegiatan NU, Muhammadiyah, atau Al Irsyad,” kata mahasiswa fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam (FMIPA) ITS Surabaya itu. Jumlah cabang PII pun merosot. Sebelum 1987 ada 37 cabang PII di Jawa Timur. ‘’Kini cuma ada 20 buah, dan di situ yang aktif cuma pengurusnya,” kata Soddiq.
Suasana di kantor pengurus besar PII pun - yang menghuni satu ruang kusam 7 x 8 meter pada satu bangunan tua di jalan Menteng Raya, Jakarta - kurang lebih sama memprihatinkan. Dua buah komputer desktop generasi pertama menjadi satu-satunya barang berharga di kantor itu. Tapi ketua umum pengurus besar PII Abdul Hakam Naja, 30 tahun, kini tampak optimistis. “Kami kini sudah bisa berkiprah kembali,”katanya. Selama 10 tahun belakangan, menurut sarjana biologi kelautan lulusan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu, PII tetap eksis kendati kiprahnya meredup. Bahkan sempat melakukan tiga kali muktamar. Pada muktamar di bogor 1994, PII memutuskan untuk menerima UU keormasan dan mendaftar ke Departemen Dalam Negeri.
Sejak lahir hampir 50 tahun lalu, PII dikenal sebagai organisasi yang tertata baik. PII pula yang menjadi pemasok kader bagi abangnya, HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia). Sejumlah alumni PII pun tercatat menduduki posisi penting dalam masyarakat, di antaranya Tanri Abeng (eksekutif di grup Bakrie), Taufiq Ismail (penyair), dr. Imaduddin (tokoh ICMI), Mayor Jenderal Cholid Gozali (anggota fraksi ABRI di DPR-RI), dan Mayor Jenderal (purnawirawan) Z. A. Maulani, Alm. mantan Panglima Kodam Tanjungpura, mantan pengamat politik terkemuka.
Di kutip dari: Pth, genot widjoseno, dan saiful anam. Nomor 12/iii, 8 februari 1997
Posted by
Rakanda
at
1:50 AM
0
comments
Labels: PII
PII Wati
Oleh Admin
Pada awalnya gagasan Korps PII Wati lahir di Training Centre Keputerian PII se-Indonesia yang dilaksanakan pada tanggal 20-28 Juli 1963 di Surabaya. Suasana duka sangat mempengaruhi TC karena GPII baru saja dibubarkan (10 Juli 1963) dan ditambah bayang-bayang suram mengenai kemungkinan menyusulnya “pembubaran PII”. TC Keputerian tersebut diikuti oleh peserta dari PB, utusan wilayah-wilayah se-Jawa, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, serta dipandu oleh bagian Kader PB PII (Muhammad Husni Thamrin, Hidayat Kusdiman, dan E. Basri Ananda).
Mengingat latar belakang yang heterogen, peserta training dibagi dalam tiga kelompok/group. Dalam TC berkembang kesadaran kuat untuk meningkatkan peranan dan kualitas kader / kepemimpinan PII Wati, serta menghapus citra negatif peran sebagai sekedar “etalage” atau “pengelola konsumsi”. Sementara fakta dan realita menunjukan bahwa kesempatan bagi puteri untuk mengembangkan diri dan berjuang di PII relatif lebih terbatas dan pendek. Beberapa peserta dari kelompok I (group Aisyah) yang terdiri dari Sri Samsiar (PB PII), Habibah Idris (PB PII), Chaerani Suty (Sumatra Utara), St Robiatun (Jogjakarta), Tuti Gitoatmodjo (Jawa Tengah), Nur Zahara Ansori (Sumatra Selatan), merumuskan gagasan pembentukan suatu wadah alternatif yang diharapkan mampu memacu / mempercepat proses kaderisasi kepemimpinan puteri yang selama ini banyak hambatannya. Inilah embrio gagasan mengenai Korps PII Wati, meski wujud konkrit lembaganya belum sempat dibicarakan lebih lanjut dalam TC itu. Realisasi gagasan itu kemudian dipelopori oleh bagian keputrian PW PII Jogjakarta Besar, yang membentuk Korps PII Wati Jogjakarta Besar pada akhir 1963.
Dalam sidang keputerian Muktamar PII X bulan Juli 1964 di Malang, disajikan 2 (dua) prasaran yang mengantarkan terbentuknya secara resmi Lembaga Korps PII Wati. Pertama dari PB PII oleh Sri Samsiar, dan kedua dari bagian keputerian PW PII Jogjakarta Besar yaitu St. Wardanah AR, Masyitoh Sjafei dan Hafsah Said.
Apa yang ingin diwujudkan oleh Korps PII Wati dirumuskan dengan singkat dalam tujuannya yaitu: ”Terbentuknya pribadi wanita Islam yang konsekwen terhadap prinsip-prinsip Islam” (Peraturan Dasar Pasal III).
Adapun kondisi yang melatarbelakangi lahirnya Korps PII Wati tersirat dalam Muqadimah Peraturan Dasar Korps PII Wati :
- Bahwa perkembangan hidup dan prikehidupan umat Islam Indonesia di dalam menuju ‘Izzul Islam wal Muslimin telah sampai suatu taraf di mana Pelajar Islam Indonesia (PII) sebagai kader Revolusi dan Kader Umat Islam memegang peranan penting dan utama didalamnya.
- Bahwa dalam mengemban amanat tersebut, tidak berbeda tugas dan tanggung jawab antara Putra dan Puteri, kecuali sesuai dengan fitrahnya masing-masing.
- Bahwa PII di dalam melaksanakan kewajiban tersebut, besarlah peranan PII Wati di dalamnya. Peranan ini perlu dipelihara, dikembangkan, dan dikekalkan, dengan menciptakan konkritisasi, harmonisasi, dan kristalisasi daripada warganya,…” (Prt Dasar Korps PII Wati, 1964).
Pembentukan Korps PII Wati tidaklah dimaksudkan untuk memisahkan diri dari PII atau memisahkan PII-wan dan PII-wati secara organisatoris, seperti yang terjadi antara IPNU dan IPPNU. Hal ini ditegaskan dalam memori Penjelasan :
“Dengan terbentuknya lembaga baru ini yang anggota dan pengurusnya adalah Khusus Puteri, sama sekali bukan untuk memisahkan diri dari anggota PII pun lebih dari organisasi PII secara keseluruhan. Tetapi dalam hal ini hanya terbatas akan spesialisasi penggarapan anggota. Diharapkan dengan adanya lembaga ini PII Wati akan mendapatkan kesempatan yang cukup banyak, kesempatan untuk mengembangkan bakat, kesempatan untuk berlatih, merasakan dan melaksanakan tanggungjawab, kesempatan untuk berdiri sendiri tanpa pengharapkan bantuan orang lain, sehingga dari wadah ini akan menghasilkan puteri-puteri Islam yang militan dan konsekwen terhadap prinsip-prinsip Islam”.(Memori Penjelasan Peraturan Dasar Korps PII Wati, 1964).
Status Korps PII Wati adalah merupakan Badan Otonom dari bagian keputerian dalam kepengurusan PII, dan Ketua Bagian Keputerian langsung menjadi Ketua Korps PII Wati. Masa jabatan Korps PII Wati sesuai dengan masa jabatan pengurus PII yang setara (Prt Dasar Pasal IV dan IX). Selanjutnya, lembaga Korps PII Wati mempunyai kekuasaan penuh kedalam, sedang ke luar dilakukan oleh pengurus PII Bagian Keputerian. Di tiap-tiap kota hanya diperkenankan adanya Korps PII Wati yang dibentuk oleh instansi tertinggi yang ada di kota tersebut. (Memori Penjelasan Pasal IV dan V).
Rapat Pleno PB PII pertama periode 1964-1966 yang dilangsungkan pada tanggal 6 September 1964, selain menetapkan Program Umum PII, antara lain juga menugaskan Sri Samsiar selaku Ketua IV untuk mengkoordinir Bagian Keputerian PB PII dan menindaklanjuti pembentukan Korps PII Wati sebagai Keputusan Muktamar X.
Susunan Personalia Bagian Keputerian PB PII Periode (1964-1966) pada awalnya terdiri dari :
Ketua : St Habibah Idris
Wakil Ketua : Mismar Chatib Salami BA (kemudian menikah dan mengudurkan diri)
Banyak sekali kendala dalam proses pembentukan Korps PII Wati di ibukota, karena sulitnya mengakomodasi semua potensi PII Wati di DKI Jakarta, baik PB, Wilayah maupun Cabang, sementara kondisi di ibukota sendiri sangat kompleks. Namun akhirnya Korps PII Wati Jaya berhasil dibentuk dengan ketua yang pertama St. Habibah Idris (Ketua Bagian Keputerian PB PII), dan dilantik oleh PB PII pada tanggal 15 November 1964.
Posted by
Rakanda
at
1:47 AM
0
comments
Labels: PII
Brigade PII
Kilas Balik Brigade
Ditulis Oleh Korpus Brigade PII periode 2004-2006
PII dan Brigade PII pada saat timbulnya , adalah sebagai salah satu kesatuan yang tidak dapat dipisah – pisahkan, keduanya adalah anak kembardari pergerakan revolusi 45 dengan tugasnya masing – masing yang tumbuh dengan sendirinya dan bukan karena dibuat-buat apalagi dipaksakan.
Sebagaimana kita dapat memahami dari namanya, Brigade PII, berbentuk klasykaran / ketentaraan, ia merupakan salah satu dari pasukan rakyat yang berjuang melawan penjajah. Brigade PII berjuang saling bahu membahu dengan saudara perjuangan lainnya seperti : TKR ( Tentara Keamanan Rakyat ), TRI Hizbullah, BPRI ( Baris dan Pemberontakan RI ), TRIP ( Tentara Republik Indonesia Pelajar Jawa Timur ) Sabilillah, Tentara pelajar ketentaraan IPPI, TPI ( Tentara Pelajar Islam Aceh ), CM Corps – Mahasiswa, CP ( Corps Pelajar Solo ) dan lain sebagainya.
Jika melihat saat peresmiannya lahir dari Brigade PII, dibandingkan dari lainnya emang agak terlambt secara Administratif lahir tahun 1947, sedangkan oknum-oknumnya sudah berjuang jauh sebelumnya, yang menamakan dirinya Pelajar / Brigade Pelajar, tetapi bukan berarti semangat jihad dan pejuang pelajar + mahasiswa ketinggalan.
Brigade PII bukan pahlawan kesiangan, walau peresmian sudah agak terlambat dua tahun, sebagai mana telah dilontarkan orang-orang yang ingin menghilangkan hak hidup Brigade PII pada waktu itu, berkat pengakuan dari saudara – saudaranya dalam perjuangan fisik Brigade PII mempunyai saudara kembarnya yaitu TPI ( Tentara Pelajar Islam Aceh ), dengan anggotanya sebanyak 12 000 dan langsung dibawah komando Korpus Brigade PII ( pada waktu itu komando dipegang oleh Abdul Fatah Permana ). Diantara pimpinan TPI Aceh ialah Hasan Bin Sulaiman, Hamzah SH, Ismail Hasan Matarem SH.
Selengkapnya......
Posted by
Rakanda
at
1:46 AM
0
comments
Labels: PII
Kilas Balik PII
Oleh Admin
Salah satu faktor pendorong terbentuknya PII adalah dualisme sistem pendi-dikan di kalangan umat Islam Indonesia yang merupakan warisan kolonialisme Be-landa, yakni pondok pesantren dan sekolah umum. Masing-masing dinilai memiliki orientasi yang berbeda. Pondok pesantren berorientasi ke akhirat sementara seko-lah umum berorientasi ke dunia. Akibatnya pelajar Islam juga terbelah menjadi dua kekuatan yang satu sama lain saling menjatuhkan. Santri pondok pesantren meng-anggap sekolah umum merupakan sistem pendidikan orang kafir karena produk ko-lonial Belanda. Hal ini membuat para santri menjuluki pelajar sekolah umum de-ngan "pelajar kafir". Sementara pelajar sekolah umum menilai santri pondok pe-santren kolot dan tradisional; mereka menjulukinya dengan sebutan "santri kolot" atau santri “teklekan".
Pada masa itu sebenarnya sudah ada organisasi pelajar, yakni Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Namun organisasi tersebut dinilai belum bisa menampung aspirasi santri pondok pesantren. Merenungi kondisi tersebut, pada tanggal 25 Februari 1947 ketika Yoesdi Ghozali sedang beri'tikaf di Masjid Besar Kauman Yogyakarta, terlintas dalam pikirannya, gagasan untuk membentuk suatu organisasi bagi para pelajar Islam yang dapat mewadahi segenap lapisan pelajar Islam. Gagasan terse-but kemudian disampaikan dalam pertemuan di gedung SMP Negeri 2 Secodining-ratan, Yogyakarta. Kawan-kawannya yang hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain: Anton Timur Djaelani, Amien Syahri dan Ibrahim Zarkasji, dan semua yang hadir kemudian sepakat untuk mendirikan organisasi pelajar Islam.
Hasil kesepakatan tersebut kemudian disampaikan Yoesdi Ghozali dalam Kongres Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), 30 Maret-1April 1947. Karena banyak peserta kongres yang menyetujui gagasan tersebut, maka kongres kemudi-an memutuskan melepas GPII Bagian Pelajar untuk bergabung dengan organisasi pelajar Islam yang akan dibentuk. Utusan kongres GPII yang kembali ke daerah-daerah juga diminta untuk memudahkan berdirinya organisasi khusus pelajar Islam di daerah masing-masing.
Menindaklanjuti keputusan kongres, pada Ahad, 4 Mei 1947, diadakanlah per-temuan di kantor GPII, Jalan Margomulyo 8 Yogyakarta. Pertemuan itu dihadiri Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani dan Amien Syahri mewakili Bagian Pelajar GPII yang siap dilebur di organisasi pelajar Islam yang akan dibentuk, Ibrahim Zarkasji, Yahya Ubeid dari Persatuan Pelajar Islam Surakarta (PPIS), Multazam dan Shawabi dari Pergabungan Kursus Islam Sekolah Menengah (PERKISEM) Surakarta serta Dida Gursida dan Supomo NA dari Perhimpunan Pelajar Islam Indonesia (PPII) Yogyakarta. Rapat yang dipimpin oleh Yoesdi Ghozali itu kemudian memutuskan berdirinya organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) tepat pada pukul 10.00, 4 Mei 1947.
Untuk memperingati momen pembentukan PII, maka setiap tanggal 4 Mei di-peringati sebagai Hari Bangkit PII (HARBA PII). Hal ini karena hari itu dianggap se-bagai momen kebangkitan dari gagasan yang sebelumnya sudah terakumulasi, se-hingga tidak digunakan istilah hari lahir atau hari ulang tahun.
Posted by
Rakanda
at
1:42 AM
0
comments
Labels: PII