Showing posts with label Silang Rasa. Show all posts
Showing posts with label Silang Rasa. Show all posts

Wednesday, February 28, 2007

Cinta

Ketika Aku Bicara Cinta (1)

oleh Ari Sucianto


Cinta adalah bahasa keiklasan dalam ungkapan dan luapan rasa emosional, untuk memberikan sesuatu yang terbaik pada suatu yang dikagumi yang telah singgah dihati.. Sesuatu yang dikagumi itu! Bisa berupa benda, seseorang, negara, idiologi, golongan (dll yang sifatnya duniawi) dan Tuhan..! (Allah swt..) Cinta kepada Tuhanlah cinta yang semestinya terwujud dan harus ditinggikan diatas cinta kepada cinta selainNya.. “Kenapa Mesti demikian?!!... Karena Dialah Cinta di atas cinta yang sesungguhnya kita rasa... yang tak akan pernah hilang dan pergi meninggalkan kita sedikitpun... yang tak akan pernah berhenti memberikan ketenangan pada jiwa-jiwa yang telah terhanyut, terayu pada syair-syair CintaNya, yang lembut terurai turun menyusuri bumi... Syair-syair CintaNyalah yang akan menghijaukan daratan, membirukan launtan dan mengindahkan langit-langit tempat bersemanyamnya percikkan para bintang...

Duhai yang Maha Cinta...

Cintailah cintaku...

Panah cintaku pada cinta yang semestinya kepadaMu...

Duhai yang Maha Cinta...

Cintailah aku...

UntukMu Cintaku...

Ku syairkan hatiku...

I love you Allah...

I love You...

...

Ketika Aku Bicara Cinta (2)

Dariku, hambaMu... Si Penghianat Cinta.


Menjadi seperti apa? Yang diinginkan orang yang kita cintai, dengan landasan keiklasan.. akan jauh lebih baik ketibang menjadi pemuja dan perayu hatinya.. karena bahasa cinta adalah bahasa keiklasan untuk menjadi yang terbaik untuk orang yang kita cintai.. bukan bahasa keinginan untuk memiliki hatinya.. biarkanlah hatinya terbang mengikuti irama alam.. dan teruskanlah cinta pancarkan cahaya tuk terangi setiap pijak langkahnya.. secara wajar dan baik-baik saja..

Ketika Aku Bicara Cinta (3)

Ketika aku bicara cinta..

Seperti inilah adanya aku..

Merayumu hingga ke uluh hati..

Memanjakanmu, sampai kau mati..

Seperti inilah adanya aku..

Ketika aku bicara cinta..!

Dan, lalu..

Maafkan aku..

Aku merayumu, bukan karena aku, punya cinta padamu mati!

Tapi karena kau wanita..

Ada lembutnya hati!

Yang wajib! Kujaga!

Maafkan aku..

Ketika aku bicara cinta..

Kata-kataku menuwai luka baru untukmu..

Maafkan aku..

Aku bukan sandaran terbaikmu..

Hanyalah.. dan adalah Dia..!

Pencipta dan penjaga Cinta sejatimu..

Shubahanallah..

Maha suci Allah..

Bersandarlah kau padaNya..

Dzat Si Maha Cinta yang terpaling tinggi..

Maaf..

Bukan aku..

Yang mesti kau cinta mati!

Tapi Dia..! Dia..! Dan hanya Dia..!

Bagiku.. adanya aku..

Hanyalah sekedar sahabat penasehat hati..!

Sesudah itu..

Selamat tidur..

Selamat malam..

Selengkapnya......

Ironi Cinta

Cerpen: 01 Religius

Ketika Cinta Itu Menggeletuk !

Oleh Ari Suciyanto*

Sadar atau tidak…

Aku sempat membenci Tuhanku…

Ketika ada Cinta yang membakar hatiku!

Tapi justru dari situlah aku mengenal sifat Tuhanku

Yang Maha Baik

Dan?

Baik sekali…

Aduhhhh…kepalaku! Masih terasa “pusing…***” Mungkin karena terlalu keras terbentur teras ruang tamu tadi pagi, saat aku terjatuh pingsan? Tapi untunglah tidak terjadi geger otak, sehingga aku masih bisa ingat! Siapa dia sebenarnya? Wanita cantik yang duduk disampingku…

“Tias…” Masih terlintas jelas dalam benakku, saat pertama kali aku menggodamu, di Halte bus depan Kampus. Dimana saat itu kau benar-benar begitu membenciku, kau lipat wajah ayumu tuju kuncup, karena haram kau lontarkan senyum manismu Untukku! “Huhuiiii…cantiknya, boleh dong! Kita kencan malam ini!” Godaku, memancing amarahmu dan tanpa sadar! PARRRR!!!! Kau tampar pipiku “Eh! Jaga ya mulut lu! Emang gua cewek apa’an! Dasar ngga punya otak! Katamu yang begitu saja berlalu.. ditelan angkot yang melaju.

***

Malam harinya, setelah kejadian itu, aku benar-benar ngga bisa tidur, bukan lantaran karena aku kesal, karena tamparanmu? Tapi karena ada butiran-butiran cinta yang tiba-tiba saja datang menyentuh hati, tanpaku tau sebabnya, setelah siang tadi kau permalukan aku dengan menampar pipiku didepan teman-temanku, di Halte Bus depan Kampus. Oh…cinta kenapa kau datang meremas hati? Kenapa kau tak pernah memberi kesempatan kepadaku untuk memilih, kenapa mesti dia! Kenapa harus dia! Kenapa kok dia! Yang baru saja memberi cap merah dipipiku! Oh…cinta…Ohhh…GU’BRAK!!! BETE ABIS!!!

Esok harinya aku menunggumu, di Halte bus depan Kampus, berharap hati, bisa bertemu denganmu. Tapi! Lima lelaki menghampiriku “Eh! Lu ya kemarin godain cewek gue ya?! Ayo ngaku!” Kata seorang diantara mereka.

“Cewek lu, yang mana?”

“Eh! Pura-pura ngga tau lagi!” BUG!!! Satu pukulan mengarah ke perutku.

“Ayo ngaku! Kemarin lu’kan yang godain cewek gue! Ayo ngaku! Punya nyali juga lu rupanya, ngapain lu ngeliatin gue! Mau ngajak berantem! He!!!

BUG!!! Kali ini aku yang memukul karena aku kesal dengan tingkahnya. Dan tak lama kemudian tiga atau empat pukulan mengarah kemuka dan perutku, ditambah lima pukulan lagi dan tiga tendangan pengabisan, yang membawaku terkapar tak berdaya ditempat itu! Tapi syukurlah sakitku sedikit terobati, ketika seorang gadis manis menghampiri. Memberikan sapu tangan warna biru untuk sedikit membalut luka dibibirku. Ya aku ingat gadis itu! Gadis itu bernama Desi anak Falkultas Piskologi Semester empat, yang akhirnya menjadi teman terbaikku. Teman terbaik yang mestinya aku cintai, yang mestinya ada disini, ada disampingku, duduk manis…sepertimu saat ini?

***

Persahabatanku dengan Desi semakin lama semakin mengukuh, semakin kuat dan tangguh yang akhirnya membuatku berfikir untuk mencoba memiliki hatinya, hatinya yang putih, bersih seperti kilauwan awan dilangit biru. Ya seperti awan itu! Awan yang sedang berjalan berlahan-lahan di atasmu, indah bukan! Tapi sayang hatinya yang putih dan bersih itu! Akhirnya harus terluka karena aku, yang begitu amat mencintaimu, meskipun aku sadar bahwa kau telah punya seorang pacar yang tanpan dan kaya, tidak seperti aku?... Yang hanya, seorang anak Tentara berpangkat Sersa kepala. Tapi itulah cintaku yang tidak mau takluk dengan keadaan.

“Tias…” Dulu aku pernah berfikir… untuk memusnakan rasa cinta ini, rasa cinta kepadamu yang pernah mempermalukan aku di Halte bus depan Kampus. Tapi ternyata? Itu Amat sulit bagiku, karena bayangan wajahmu yang ayu dengan lesung pipimu yang manis, kerap sekali hadir menghantuiku dan menggangguku siang dan malam. Hingga akhirnya aku terbangun dalam sadarku bahwa cinta ini dari Allah SWT dan hanya kepada-Nya cinta ini dikembalikan, karena cinta ini sesungguhnya milik-Nya, milik pencipta langit dan bumi. Sedangkan aku! Hanya seorang manusia biasa yang tak punya kuasa terhadap diriku sendiri.

“Ya Allah yang Maha pengasih dan Maha penyayang, ya Allah yang Maha kuasa atas segala ciptaanNya, ya Allah yang Maha mengetahui hati, ya Allah yang memberikan cinta? Lindungilah aku ya Allah, dari ke fasiqkan ku! Dan selamatkanlah aku dari rasa cinta ini! Karena sesungguhnya aku tak kuasa menerimanya! Ya Allah berikanlah jawaban kepadaku tentang apa yang ku rasakan saat ini!…Amin ya robal allamin” Itulah doaku, setiap aku mengiatmu!

Alhamdullillah…ketika aku banyak berdoa dan berserah diri dihadapanNya, hatiku semakin tenang, bahkan ketenanganku menumbuhkan keberanianku untuk berkunjung ketempat khosmu, hanya untuk sekedar ucapkan kata maaf atas ketidak sopananku di Halte bus depan Kampus, waktu itu! Meskipun cowok kerenmu yang bermobilkan mewah itu! Hampir saja memukulku kembali?

“He! Ngapain lu kesini!” Katanya yang berdiri menantang dihadapanku.

“Sorry mas saya kesini, cuman mau ongmong sama dia!”

“Sudah! Sudah! Romy, biarkan aku saja yang ongmong sama dia” Kau mencoba menenangkan pacarmu dan lalu kau hampiri aku. “Mau ngapain lu kesini!” Ucapmu dengan raup muka yang tidak begitu menyenangkan.

“Gue datang ke sini cuman pengen minta maaf sama lu! Dan seterah lu! Elu mau maafin gue atau ngga, itu hak lu! Itu saja!... Selamat malam!

***

Setelah kejadian itu, hari-hariku semakin menyenangkan, karena aku mencoba untuk tidak perduli lagi dengan perasaanku, bahkan waktu di Halte bus depan Kampus sore itu! Ketika kau mencoba mencuri pandang kearahku, aku cuek aja! Bukan karena aku sombong, tapi memang karena aku tidak ingin lagi berurusan dengan yang namanya…Cinta!!! ( Bete tau ga?!! ) Aku ingin hatiku bebas terbang melintasi luasnya samudra di atas cakrawala-cakrawala jiwaku, meskipun aku terpuruk dalam sadarku bahwa aku masih mencintaimu dan kerap sekali merindukanmu dimalam hari.

“Ya Allah…salahkah aku? Jika aku membunuh perasaanku sendiri, yang kau hadirkan untukku?...

***

Pukul 21.35 entah kenapa hatiku ingin sekali berada di Halte bus itu? Seperti ada sesuatu yang akan aku temui disana? Dan tak lama kemudian? Aku melihat sedan hitam. Sepertinya? Aku mengenalinya? Ya aku mengenalinya? Sedan hitam itu! Milik pacarmu, yang berhenti tak begitu jauh dari Halte bus tempat dimana ku duduk, dan??? BRAKKK!!! Kau keluar dengan membanting pintu Sedan, kau berjalan menjauhi dengan tanganmu yang mencoba menghapus air mata yang membasahi pipimu manis dan tak lama kemudian??? Cowok kerenmu keluar lalu belari menghampirimu…

“Tias! Tunggu! Tias tolong! Dengarkan aku!”

“Dengarkan apa! Dengarkan mulut busukmu itu! Dasar munafiq!”

“Tias aku minta maaf! Aku hilaf…

“He Rom! Kamu kira aku ini cewek apa’an! Jangan mentang-mentang kamu anak orang kaya! lalu seenaknya, kamu mempermainkan aku!”

“Tias!!! “

“Pergi Rom! Aku tak ingin lagi melihat mukamu!” Kau terus berjalan menghampiri Halte bus, lalu duduk bersama tangismu, yang tak begitu jauh dariku.

“Tias…maafkan aku?”

“Pergi kamu!!! Pergiiii!!!” Kau dorong pacarmu dan kau usir dia dengan amarahmu, sedangkan aku hanya bisa duduk terdiam tanpa kata dengan mata yang mencoba menghindar dari melihatmu, dan seakan-akan mencoba tak peduli dengan keadaanmu. Sampai akhirnya pacarmu pergi meninggalkanmu…

Aku yang tak kuasa lagi melihat kau menangis, mencoba menghampirimu “Tias…” Sapaku memanggilmu, kau lirik aku sejenak dan lalu kau berdiri, kau stop Taxi, tak lama kemudian? Kau tinggalkan aku, tanpa sedikit kau jawab sapaku. “Ah mungkin kau malu dengan ku?” Pikirku.

Dan semenjak kejadian itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan mu, di Halte bus atau di kantin Kampus tempat kau biasa singgah dan bercanda dengan teman-temanmu centilmu…

***

Sebulan telah berlalu, tanpa ku sadari aku melihatmu kembali di depan gerbang Kampus dengan tawa yang begitu manis diantara sapa hangat teman-temanmu yang mungkin telah lama merindukanmu… “Seperti aku!”

Aku begitu senang saat melihatmu tertawa, karena aku, dapat merasakan betapa kau begitu bahagianya saat itu, dengan senyum ayumu yang tergores indah karena lesung pipimu…

Langkahku berdetak berlahat-lahan melewatimu. Dan??? Kau melirik kearahku!!! Membuat langkahku semakin kaku!!! “Ah…” Untunglah temanku menyapaku! Dan menghampiriku, kalau tidak?…Huuu…mungkin??? Aku akan berhenti sejenak, menenangkan debar hati dan melemaskan urat kaki…

“Hai! Wan! Kenapa lu? Gua panggil diam aja?” Sapa temanku.

“Ngga pa-pa! gua lagi ngga enak badan aja” Alasanku mencoba menutupi.

“Gua kirain lu! Kesambet! Abis gua lihat lu’ tadi kaya orang bingung?”

***

Dalam kelas, aku coba menulis puisi untukmu dan lalu ku kirim kepadamu lewat teman sekelasmu, “Santi!” Yang kebetulan teman lamaku waktu di SMA. Tapi! Sayang puisi itu! Tak sampai ketanganmu karena Santi salah mengasikannya, keorang lain. “Ya sudahlah, mungkin lain kali, aku harus lebih jelas lagi memberikan informasi agar puisiku tak salah arah. Dan untuk meninggalkan jejak, aku langsung lari menuruni anak tangga karena aku takut, kau dan teman-temanmu melihatku yang baru saja sembunyi dibalik pintu kelasmu.

***

Hari-hariku semakin tak menentu, karena aku selalu memikirkanmu dan merindukanmu di tambah lagi niat ke dua orang tuaku yang ingin pindah rumah ke Semarang, karena urusan dinas yang tak bisa di tawar-tawar lagi.

“Ya Allah apa arti rasa cinta ini bagiku?... Ya Allah berikanlah aku petunjuk! Dengan seindah-indahnya nama-Mu…”

***

Dua tahun kemudian, setelah aku jadi Sarjana Ekonomi, aku mencoba mencari kerja di Jakarta, dengan harapan bisa bertemu denganmu disana? Yang telah lama aku rindukan.

Allhamdulillah… setelah enam bulan aku di Jakarta, aku sudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan Izasyahku. Tapi sayang aku belum juga menemukanmu. Hampir saja aku putus asa mencarimu, kalau saja aku tidak bertemu dengan teman kelasmu, yaitu Santi…

“Santi!...” Sapaku.

Tak lama kemudian ia terdiam sejenak dan mencoba mengingat-ingat, siapa aku???...Dan tak lama kemudian?... “Iwan!” Sahutnya.

“Iya ini aku! Iwan! Ingatkan!

“Iya aku ingat! Kemana aja kamu! Ngga pernah kelihatan?”

“Aku pindah ke Semarang’ ikut orang tuaku yang dinas disana? Tapi sekarang aku tinggal di Bekasi, di rumah pamamku, dan bekerja di Senayan.”

Di senayan? Berati dekat dong denganku…”

“Oh ya?”

Tak lama kemudian, Santi menceritakan tentang keadaanmu dan ia-pun mengajaku ke tempat kerjamu yang ternyata tak begitu jauh dari tempat aku bekerja. Wahhh…bertapa senangnya aku, mendengar ajakannya itu. Tapi?... saat aku sampai disana? Kau telah pulang ke Bandung dan mengambil cuty selama seminggu, karena akan di jodohkan dengan anak teman lama Ayahmu. Aku yang mendengar cerita itu, langsung tersentak hancur berkeping-keping. Hatiku pecah seperti kaca yang terjatuh dari atas tebing yang curam dan tinggi, dan benar-benar menusuk urat hati, tak ada lagi pijar di hatiku karena kabut perih menutupi. Aku yang tak kuasa lagi, menahan kenyatan ini, mencoba belari menahan perihnya hati…

“Aku adalah milikmu ya’ Allah… seterah Kau yang Allah… mau Kau apakan aku! Aku tak akan melawan-Mu! Karena aku sadar, aku tak akan mampu melawan-Mu! Karena kau maha kuasa atas segalanya. Tapi salahkan bila aku saat ini! Aku meminta kepada-Mu! Untuk Kau buktikan kepadaku, tentang arti kasih sayang-Mu! Ya Allah aku selalu berdoa kepada-Mu! Agar Kau hapuskan rasa cinta ini! Tapi mana? Ya Allah… Kau tak pernah kabulkan doaku! Bahkan cinta itu! Semakin tumbuh dan menyiksaku. Saat aku berikhtiar untuk meraih cinta itu! Kau malah menghancurkan harapanku, dimana ya Allah kasih sayang-Mu?Yang sering Kau katakan dalam ayat-ayat suci-Mu. Maafkan aku ya Allah jika saat ini! Aku katakan bahwa aku kecewa pada-Mu!” Itulah ucapanku di depan pintu Mesjid, saat hatiku benar-benar hancur berkeping-keping tanpa sisa...

***

Sehari kemudian? Aku dapat kabar dari kedua orang tuaku di Semarang, bahwa aku diharapkan segera pulang secepatnya, karena aku akan dikenalkan oleh seorang wanita pilihan kedua orang tuaku, dengan hati penuh kecewa kepada Tuhanku, aku melangkah pulang. Dan setelah sampai disana? Bertapa terkejudnya aku! “Ya Allah… Ampunilah aku! Ampunilah aku ya AllahTersentak Hatiku, terjatuh pingsan di ruang tamu, setelah aku melihat dirimu berada disamping Ibuku???

Cinta adalah sarana untuk mengenal adanya kekuatan di luar batas kemampuan manusia, sedangkan jodoh adalah bukti adanya kekuatan itu! Yaitu Allah SWT.

*Penulis adalah mantan Ketua Komisariat Parakan Pengurus Daerah (PD) Temanggung Jogyakarta Pelajar Islam Indonesia (PII) periode 1998/1999. Kini sedang menyelesaikan kuliah di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma Jakarta.

Selengkapnya......

Tafsir Cinta (6)

Bukakan Jendela Entah Pada Jalan Ke-6

Setiap wahyu yang diberikan tuhan pada para nabi. harus diterima penuh dengan kesungguhan iman yang kokoh, benih cinta dan perjuangan panjang. Tentang sejengkal kisah peradaban, tapi kita harus yakin akan datang tangisan-tangisan baru anak kecil, seperti para pujangga yang sering kali diacuhkan pada cerita-cerita cinta dalam sebuah novel-novel, dan kini kata-katanya menjadi kalimat-kalimat abadi, bersahabat akrab dengan para pencinta, tapi, mereka yang iri, memberikan sebuah gelar pada kata yang ditulis dari kejauhan jiwanya, gelar itu, picisan atau murahan, terlalu gombal dan kotor untuk didengar disimpan dalam kejauhan hati.
Tapi walau demikian kitab-kitab waktu mencatatnya, mereka hidup abadi pada setiap orang-orang yang membaca karya-nya.

Demikianlah buku-buku harapan memberitauku sehingga cemas, dan jari-jari menulis cepat perasaan yang dibakar api cinta menjadi arang ketulusan kejujuran yang diabaikan

Aku ingin abadi dengan cinta ini, dan huruf-hiruf kususun berbuah kata, menjadi simbol apa yang ada didekat hati, walau, terkadang satu dari kalimat-kalimat atau paragrap itu, ada yang kelewat satu atau dua huruf yang bisa membuat pusing pembaca-nya, ya, memang seperti itu, seperti aku yang cemas, menunggu cinta dan ketulusanmu.

Tapi kuanggap semua yang kurasa adalah pembelajaran dan proses perjuangan dalam meyakinkanmu, dan kini aku kembali merangkak dari awal lagi, seperti anak SD yang belajar membaca, menulis, mendengarkan,dan menghapal, mengingat, apa yang telah didengar dari sang guru.

Aku, yang terus-menerus belajar tentang cinta, dan sekarang aku belajar mencintaimu dan maukah kau belajar mencintai aku juga.

Entah Sebelas

Pada dirinya yang kubayang, kuharap, kau ramah pada doa-doa, dan mendekap dalam, dengan untaian rantai cinta
Semua kata tulus, untuk Kau, Penguasa hening sekujur resahku
Kuharap, kau maha mengerti. Lagi maha penyayang
Kau, penguasa timbangan, amal dan dosa, ya, atau tidak
kau kini yang kusembah, dan kepada kau aku benar-benar memohon cinta
Berikanlah aku harapan yang rurus
Yaitu, harapan-harapan yang telah engkau anugerahkan dengan tulusnya cinta pada mereka yang kau sayangi

Entah Duabelas
Dirimu.
Kau, tuhan kecilku
Kitab-kitab cinta ini, tak ada keraguan bagiku , dan jangan kau ragukan.
Dirimu; petunjuk bagiku. Aku yang mengimanimu.

BERSAMBUNG
Bandung 20-12-2006
(JS Kantara)

*Penulis adalah Kepala Suku PK-PII Bandung Raya dan sedang kuliah di Jurusan Menegemen Keuangan Syari'ah (MKS) Fakultas Syari'ah UIN (Universitas Islam Negeri) SGD (Sunan Gunung Djati) Bandung.

Selengkapnya......

Tafsir Cinta (5)

Sekujur Entah Di Sudut Jalan Ke-5

Tentang nyeriku, malam sahabat akrab dalam bagian hidup, dan doa tak hati kulempar pada waktu, hari menitipkan kabar pada angin, namun kabar itu menggelitik geli, sunyi, sampai nadi berdendang kencang memukul-mukul malam, agar rindu tak terlalu kalut menahan dingin-nya sikapmu.

Sekejap detik masih menghijab aku dan kau, patah perasaan mengelilingi ruh jiwaku yang kini menyaksi kekalutan tentang sejarah hati, tapi nasib ini, tetap menggantung pada timbangan angkuh cintamu, kenyataan, semakin hari semakin nyeri, semakin ngeri kurasa sendiri.

Tapi! Walau hati ini nyeri, kan kutulis beribu TAFSIR-TAFSIR KAU lewat PUISI-PUISI ENTAH, berisi perasaan rindu. Untukmu demi kesucian cinta, kutuluskan jiwa dan demi kesaksian ruh jauhku memujamu.

Entah Satu

Entah menatah resah…

Kau.

Lahirkan entah ini,

Menjaringku jujur tentang perasaan

Namun kejujuran terkadang menyakitkan

Di setiap belokan menjadi doa-doa entah.

Kini, kutelusuri lorong cintamu, tapi sunyi kudapatkan

Namun hati semakin Kukuh meninggi, mengurai gelap, membedah tulusmu

lengkap kenyatan membengkak kecewa

Hari-hari menyuapku lebih bisu

Karma mata jiwa takmau kehilangan sapa, senyumu…

Entah Dua

Kini kutau…

Kini kutau, kabar burung tentang secuil kisahmu

Waktu yang lewat, menusuk ranah jiwaku, sampai raga lelah terkapar semu

Pada entah, kukailkan harapan padamu

Dan, kau menjadi puja pada doa-doa di ruh jauhku

Kini kuhijrah pada setipis senyumu

Kuharap kau, jangan acuhkan perasaanku

Jangan kau malu, apalagi hindari aku

Senyummu tetap sebagai dasar tafsirku

Tetap__

Kuingin kau mengerti,

Sebab cinta, mengakar jauh, menusuk erat nurani ini,__

sebab hati menitifkan lisan, pada bibir untuk bersikap jujur

Menunggu ikhlasmu, tak ada kata terlanjur

Entah Tiga

Harus kau tau,

Harus kau ketahui, kabar tentangmu yang hinggap ditelingaku

Tapi, tak kuperdulikan, apa kata mereka, Kau harus tau__

Mereka, ceritakan seulas jejak-jejak kecil, mencaci maki tentangmu

Tapi, aku tak mau tau!...

Taukah kau,

Secepat senyummu menjadi rantai kekokohan penantianku

Agar kejujuran, ketulusan, rindu, dan harapan ini, tak liar

Dan…

Kutunggu tulusmu, bersenggama dengan cintaku

Bisakah?__

Cinta tulusmu hanya untuk diriku.___

Mungkin?...

Atau, Entah?...

Kusandarkan padamu!__

Entah Empat

Pada bumi yang dicintai

Lembaran-lembaran hati tetap tertulis nyeri

Menangkap makna meringkus sepi

Dirimu pecahkan kebekuan ini

Sependek cerita, tentang udara

Aku, kau, dan mereka, masih takut dengan kehilangan harapan.

Semua itu, sebenarnya sepi kosong.

Tapi, kalut, kadang datang menghibur sekujur tubuh nyeri melengkapi sunyi…

Tersenyumlah, ungkapan halus yang timbul dari penatnya makna

Tenanglah seulas tulus pastidatang mencabut belenggu yang sudah tak tahan lagi menahan retaknya penantian, dalam tafsir-tafsir entah.

Entah Lima

Aku tak perduli!...

Kau, kalian, dan mereka

Menertawakan penuh

Pada diri ini, yang mencintaimu penuh

Dengan tulusku, aku tetap akan bertahan, walau sampai terkapar,

Meski Cintaku, menepuk-nepuk dada, dengan sebelah tangan kebisuan.

Entah Enam

Aku____

Membisu…

Menampa senyummu beku

Tertusuk duri mimpi, guratan luka bertambah nyeri

Bersit-bersit perih menyayat dada ini,

Hingga air mata, banjiri bumi yang becek

dengan rintih dan pedih sigembel

Dan__

perasaan yang tak sampai. Kini tetap tertahan

Bagaikan dedaun didekap erat embun,

Menyimpan berjuta butir-butir air

Pada pagi dilengkapi mendung.

Dipergantian musim.

Mengawur entah, tabu

Tentangmu semu.

Entah Tujuh

Sekujur entah.

Sekujur entah ini keluh

Menapak pondasi merangkai bangunan puisi dijauh hati

Pada sepetak tanah kering, rengat oleh kepedihan

Dan jejak-jejak berlubang, dijalan berbelok-belok jauh

Sampai hati terlalu haus mengubur diam

Meneguk keringat malam, sambil mengusap pipi bertetesan air mata.

Saat rinduku, mengambil bayangmu penuh.

Entah Delapan

Tentang aku merangkak-rangkak

Meraduh aduh persaan,

Sepi tampamu, dan kukepak-kan sayap-sayap, lara hening tentangmu

Lalu kemanalagi kuselipkan gundah ini

Karena, gelas-gelas kosong diatas meja telah habis kupecahkan

Dan kemana lagi harus kubuang sampah-sampah rindu__

Karena, tong-tong sampah disetiap pojok telah dibungkus bisu

Sampai jengkalan kalimat jauh menafsir ayat-ayat tentang diri-nya.

Merangkum kisah, yang suatu saat akan abadi dalam putaran abad

Dan, mungkin kau lebih tau dariku__

Bahwa hidup ini selalu menyisihkan tanya.

Menyisakan tanda. Tanya,,,,,,,,.?

Entah Sembilan

Kunisbahkan diri pada sepercik cahaya cinta

Pada sekuntum bunga yang hidup sekejap mata

Dari jauh, kucium harum-nya

Sepercik air dan doa kutitifkan pada angin,___

Lalu, sampaikanlah salam cinta, dari sigembel ini, bilang kini aku menunggu, gila-semakin gila, mecium harum wewangi aura-nya.

KAU,KAU, KAU……………………………………………………………………………………

KAU________,

Entah Sepuluh

Sabda doa untuk tuhan kecil

Tuhan kecil itu dirinya,

Sambil sila kuputarkan tasbih__

Nyeri kutumpuk menjadi doa-doa

Kata kususun menjadi paragraf penantian

Pada keretas-keretas kosong kehampaan

Wahai, tuhan kecilku, bisakah kau Kabul doa-ku

Atau kau muak dengan ruku dan sujudku ini, yang bersejadahkan lembaran-lembaran keretas berlukiskan puisi-puisi keluh, yang kau tak mengerti.

Tapi, kuharap kau membacanya lagi berulangkali,

Dan kuharap kau mengerti.

Dan, aku, akan tetap sila menunggu tuhan kecil

Menghitung doa-doaku,Dalam singga sananya.

Dengan teramat sangat kuberharap,-

sepercik cinta dia berikan padaku.

Ammin.


Bandung 18-12-2006

Selengkapnya......

Tafsir Cinta (4)

Sampai Mana Entah Ke-4

Kau biaskan aku, Pada jejak-jejak perjalanan ini, separuh hari kulacurkan hanya untuk menunggu sebersit senyummu yang terkadang tak kujumpai setiap hari, sebab kenyataan membukus pedih, cemas menggumpal, dalam hamparan dada yang sesak karena badai, badai cintamu, kini bayang-bayang membelit jiwa sampai tersesat keranah mimpi paling jauh dilelap tidurku.

Mengapa cahaya kejujuran, mengusap-ngusap halus auramu, yang terpancar terasa indah untuk kusapa perlahan, walau air mata menetes buah dari rasa nyeriku, asal jangan menggores pedih melukaimu, walau sedikitpun.

Aku disini bias, tercengang, tak bisa suguhkan seucap kata-kata sapa langsung padamu, maaf, harus kau ketahui bukan kerena aku melu, benci, atau sebagainya, tapi saking aku menahan rindu dan rasa cinta ini yang teramat sangat, aku hanya bisa menahan keremukan hati yang dipaku dipalu, Oleh senyumu.

Aku kini, entahlah……………………………………………………………………………..?

Wahai Entah

Wahai__

Aku di sini, dikelilingi seurai bayang,

Tentangmu. AKU…

Kini, kalut menyelimuti pikir

Berbuah patahan-patahan kata luka

Entah.

Tentangmu…aku…patah arah

Wahai____

Masih tatap kusandarkan,

Tentang rindu walau bias dan abu,

Aku, semakin semu kelabu

Mencoba Berkiblat,

padamu terlelap menancap lelah

Wahai_______

Tetaplah disana,

Dengan tegasmu, buang tulusku

Pada tong sampah resah.

Wahai__________

Tetaplah disana,

Jangan toleh aku, yang semakin sakit parah

Harus kau tau,

Sakit ini bukan karenamu…

Tapi separuh sebab meguak tulus dalam jiwa

Wahai______________

Bukan karenamu, aku…gila,

Tapi, kerena perasaan tulus padamu, membuatku lebih gila.

Puisi Entah

Resah semakin membelit

Harapan menggantung pada entah

Kulihat kau…

Dan, langit seakan dekat

Lalu purnama berbisik,

Tentang retaknya langit ditambal mendung___

Kelam seperti cinta yang kuraba, kurasa.

Padat hati ini, semakin sesak oleh rintihan-rintihan kecil tentangmu, bias, sangat bias, jauh kutatap jauh,

Dihilir perasaan hening, dingin, mencekam nadi-nadi,

Sampai air mata kering, mengendap,

Menjadi lumut-lumut penantian. Entah ber__akhir kapan?...

Aku Entahkan Doa

Sehelai doa dipersimpangan jalan

Menjadi setumpuk sampah busuk

Dipandang enggan, cemas, lesu, penuh beban.

Seraut beban itu jujur, menjadi coretan-coretan malam

Menjadi sesajen diatas altar kebisuan

Menjadi ujung dilabirin keheningan

Tetap menggantung dilangit harapan

Bandung 15-12-2006

Selengkapnya......

Tafsir Cinta (3)

Seentah Bisu, Entah Ke-3

Dirimu diam dihatiku, kau datang membawa seikat senyum, melintas bagai pesawat tempur. Sekejap melesat seperti rajawali mencakar langit, disaat jingga melempar keganasan sore yang siap menerkam pengemis gila digurun pasir tanpa setetes air atau lemparan bunga, walau layu, dia terkapar lebar pasrah, menunggu orang murah hati menyapa membawanya kejauh pohon rindang. Bangkitkan lelah dari riuh gemuruh angin yang menyakiti luka-luka nyeri dipersimpangan, disisi senyummu menabur sekejap perih harapan, seperti diriku diremang-remang lampu, dihulu magrib menunggu sesosok dirimu, dibawah tiang tanpa dilengkapi bendera seperti aku bisu tak bersama rayu senyummu.

Sepi dengan sebatang roko, segelas kopi, yang tetap setia mengakrabi khayal liar sampai bulan, serata langit, seretak tanah bergurat, bersama sejuta bintang menertawakan aku yang bisu. Tak apalah, hanya ini yang bisa aku lakukan, menunggu seperti tugu di perbatasan dua pulau dengan remang-remang lampu, dengan serumit permasalahan setumpuk keretas yang berbeda, walau berdampingan hanya tembok pembatas menjadi tirai perasaan,kita berdekatan. Hanya segaris batas memisahkan, suasana, pesona, irama daung anginnya berbeda, seperti aku, kamu, mereka, berdekat akrab melekat pada serpihan-serpihan detik, waktu, hari, siang, malam, berenang pada lengketnya resah, menggauli gundah dengan percikan-percikan airmata seperti hujan setelah magrib seperti yang aku menanti, dirimu.

Hanya dengan itu aku mencoba meyakinkan kau yang jauh disana, tahukah kau, kesalnya dada ini, seperti kambing dikandangi, tak bisa melakukan apa-apa. hanya bisa meneriaki jeritan setia dalam kerangkeng kayu-kayu yang dipaku kuat. Walau berusaha mendobrak dengan sepasang tanduk meraduk, menubruk. Tetap, hanya melahirkan sepasang tarian-tarian kalap melelap, melahap. Sama sepertiku, ditali dengan bayang, khayal, mengikat kuat sampai teriak tak lagi mengeluarkan bunyi tangis; saking lelah merayap meyakinkan kamu dalam kukuh, jari jemari yang mengetuk-ngetuk bata hatiku dengan melantunkan nada-nada perih, mengeong-ngeong dengan sepatah kalimat yang gugup melahirkan cemas pada kubangan talu, menjadi hulu menderu, menyiku, dahsyat menatapi dirimu.

Tatapan itu tatapan dirimu. Aku, yang terlalu pagi menjemput hangatnya matahari dengan burung-burung melantun siul dan nyanyian, tarian-tarian kepakan sayap berdansa, menjemput waktu-waktu kelabu, menggulung hitam apa? lalu menyusun entah disimpang-simpang, disudut-sudut, aku terpojok dilubang kecil, dengan mungkin, aku tetap terus merayap, berjalan tak peduli duri-duri, menemu siang membakar kulit menghitam, gersang atau disambut mendung, sembari menetaskan percikan-percikan air hujan membesar membasah kuyupkan sekujur tubuh. Mendingin, tak bisa berlari cepat merapat pada rindangnya pohon cintamu.

‘Kau, Ayat-Ayat Perindu

Sesosok dirimu menjadi paragrap

Menjadi rima dalam puisi

Kutafsir bagai ayat- ayat mati

Menjadi hadis penerjemah wahyu

Langkahmu menjadi artefak-artefak

Kugali, kujengkali

Seraya berusaha meyakinkan pada naluri

Bahwa aku _______

Kini aku menjadi nabi bagimu

Memuja dengan hasrat

Berdoa dalam bisu untuk segurat senyum

Taukah kau, pujaku!

Kini___

Seurai rambutmu, sekedip matamu, selebat bulu alismu, sepikuk hidungmu, segurat tebing wajahmu, sepeka telingamu. Semua, seonggok daging bersosok dirimu,

Dan wahyu bagi seorang gembel

Ayat-ayat dirimu kuhapal, ku-kumpulkan,

Kubaca, agar tak lupa

Dan, akan kuberi tahu pada dunia semampu aku punya

Bahwa, aku menyukaimu!

Jauh dari yang kau tahu

Agar aku, kau, abadi

Dalam tulis yang tak rapi

seliar kau memilih pendamping hati.

Disini beku, bagai dalam cerita nabi Ibrahim dibakar tumpukan api. Aku pun sama seperti dia yang akan tetap teguh kokoh dengan tulus, walau dibakar rayu-rayu para bidadari yang menggiurkan para jahanam, bersama doa-doa dan sepercik iman yang masih tersisa, aku tetap berusaha teguh berkiblat mengimani cintamu

Disimpang Jalan Bisu

Siang menatah resah

Matahari menggantung diharapan semu

Kuukir hari dengan tinta air mata

Daki semakin pekat dikulit coklat

Lamun bergoyang

Menghantam pilu, nyeri di urat nadi

Diam kupaku kecewa

Di iringan sesak detik kejamnya iri

Sumpah serapah tak lagi dibaca

Doa tak lagi menjadi wewangi bunga

Dedaun terus tumbuh dalam putaran cuaca

Cakrawala menjadi tangis kerapuhan

Dada menjadi lautan pasir sesal

Hati menjadi sejarah hitam yang terlupakan

Langkah tinggal lelah dipersimpangan

Mulut hanya menjadi bungkusan kosong

Pada untaian jingga dilangit harap

Mengendap seluruh rasa asa

Dipalung hening kelam dalam bingung

Aku menjadi diriku!

Namun akhirnya resah dan entah.

(03 Desember 2006)

Selengkapnya......

Tafsir Cinta (2)

Di Persimpangan Jalan Entah Ke-2

Aku disini

Angin kecil mengayun kerinduan tentangmu

Terlihat wajah bercahaya menguak rindu dipesisir hatiku

Satu senyum kucuri dikejauhan kusimpan dalam hati

Mata yang indah penuh tandatanya

Mungkinkah kau lempar sapa tulus menjahit resah kerapuhan

yang membelit palung jiwa yang kini berserakan

sampai aku tak sanggup lagi menahan rindu

Disini ditemani sunyi penuh

bercumbu bayangmu pada pesona

sampai langit jiwa retak

lalu kucoba tafsir remang tentang perasaan

oleh ketulusan yang sedikit tersisa

aku yang jauh darimu

tapi aku dekat dengan cintamu

padamu disini aku penuh


Dipersimpangan jalan diujung hati perempuan itu, disana burung gereja belajar bernyanyi diatas genting hati, dia duduk bersama angin kecil membawa lagu tentang keindahan perasaan pada hidup yang terlalu pagi untuk dihinggapi, hari senyumilah burung itu sebagai tepuk tangan dengan hati yang lebih jeli yang sekarang belajar terbang menari bernyanyi bersama ayat-ayat rindunya, seperti puisi dan alunan musik biola yang menyat perih perasaanku.


Disana diujung do’a, warna warni pelangi dimusim hujan dipelihara asmara bersama mimpi dimusim kelam menghitam. Kucoba menyelusup ranah hatimu yang terjauh sampai kutiup seruling jiwa dengan kegugupan untuk tenangkan sepiku darimu. Dihamparan dadamu kuingin terus-menerus diam menyelinap kedasar tebing kalbu, bersama iringan lenting tinggi suara hati, jiwa penuh kesungguhan penuh keindahan tampa hayal dan bayang-bayangmu.


Dipangkuanmu aku ingin menangiskan semua rindu dipelukanmu aku ingin bercerita tentang jiwa yang resah memasrah tentang semua yang mengendap didada, aku ingin hijrah kepangkuan kalbumu, sambutlah kehampaan hatiku dan buka lebar jendela hati untuk aku berpijak dalam cinta dengan ketulusan dan ijinkanlah aku menari ditengah panggung dan iringi aku dengan irama musik cintamu agar tak sepi hidupku.

Aku yang

Kini kugantungkan rinduku

Padamu sambil merayap kucoba selami lautan kasihmu

Semoga tak kelam

Kini kucoba walu luka dan nyeri menguliti diriku sendiri

Dirimu adalah jiwamu

Yang sulit kutafsir seperti bebatuan malam

Yang menggantung dalam palung jiwaku

Sampai saraf dadaku mengejah kembali

Tentang asmara dibalik cintamu


Kau yang hingap, aku yang bergulat dengan andai-andai yang kini menjamah renung, memikir tentang entah yang kini bergetar, takbisa kulempar, bayangmu yang kini telah hinggap menjarah rimba batinku


ke-elokan wajahmu memancarkan cahaya terindah menyerang menyambuk, mendera hamparan dada yang kini disesaki dengan harapan yang bergantung seperti do’a yang takterkabul, dimalam kelam ayat-ayat harapan hanya berbuah air mata dingin yang sepi, yang sendiri, aku terpojok dalam sejarh hati seperti sampah disut-sudut malam ditemani remang cahaya lampu kelam dengan suara lenting tinggi jangkrik menghibur disaat sekarat rindu yang semakin merobek- robek.


Aku bersama malam membisu membatu, terhimpit rasa nyeri tapi aku tetap akan berusaha melukis bayangmu menjadi serpihan-serpihan kalimat, seperti nadi tersusun rapi disekujur bungkusan tubuh, ruangan kamar yang sesak dipenuhi tulisan-tulisan dengan tinta air mata sepiku yang kini didayung cintamu sampai resah menjemput, memahat kesungguhan dan tenggelam dilautan cintamu yang kini dibanjiri jeritan pilu, mengaduh-ngaduh seperti suara anak kecil yang tertusuk duri, anak kecil itu aku, dan duri itu harapanku padamu,


perempuan itu dirimu, kehadiran bayangmu adalah sebuah kompas petunjuk arah untuk aku berkiblat padamu, yang kini kupuja dengan panji-panji, syair-syair hasrat, melekat seperti ayat, doa, menempel kesungguhan kepasrahan keiklasan memanjat tangga iman agar tidak tersesat lagi diranah cinta yang selalu menyakitkan.


Kini aku menggugat pada tuhan, tuhan itu adalah dirimu sekarang dan kini aku tersesat kedalam jalanmu dipersimpangan sejarah hatiku, kau mengelakan kesungguhan do’a-do’a yang kini kusandarkan kepadamu, MENGAPA haya itu gugatanku yang kulempar kepada yang esa, setiap detik aku mencoba merayap dengan ketabahan, tapi sampai manakah ketabahan ini berhenti. Ketabahan di kejauhan kalbu, sampai aku pasrah dan, kata entah yang kini menyimpan lelah, harap, cemas cintamu.


Taukah kau, seandainya perasaan ini dapat bicara kan aku ucap padamu dengan beribu kesungguhan tentang aku yang mencintai mengharap sapa terindah dari kau pujan, aku yang kini, disini, sendiri bersama padatnya malam berbicara tentang nyeri perih rintih pada sepi yang menyambut sunyi menaburkan air mata dingin, sedingin hatimu kepadaku, dan harapanku kini hayalah mimipi-mimipi digelap yeng terlelap dikubur ditutup disembunyikan dibalik pikiranmu, menjadi kehancuran disisi senyummu, dipersimpangan tangisku pada detik memburu waktu semu, bisu, sepi, tuli, membuta, sedih, teramat sangat, taukah kau untuk mengobati piluku yang teramat ini harus dengan ukiran tulusmu, hanya satu yang kini dapat meluruskan sesatku, dirimu.

Kau sangat berharga

Satu bintang berkelip cahaya

Bersinar kearah bumi mati

Kutatap matamu, sorotnya kearah hati

Dada ini, bagaikan merapi berhaburan kawah panas

Diriku sesak, penuh dengan harap pada kerinduan yang mati

Yang menunggu terbelenggu

Diriku kini memusat pada arahmu

Tapi tak ada lagi selain berusaha

Mendongkrak perlahan dirimu yang membatu

Dengan doa dan ayat-ayat cinta

Demi kesungguhan

Aku menyukaimu penuh


Aku diam, aku menjerit disini tak ada yang mendengar aku harus tetap berjalan dengan sisa-sisa dera, kemana lagi kaki kutuju bumi kupijak langit aku jung-jung. Mata, kemana lagi kau memandang sapa dan senyum? kemana lagi harus aku lempar pikirku, yang kini hanya retak-retak bergurat dan lisan menjadi tulisan meninggalkan lidah yang berpesan mewakili sekujur tubuh merapuh lelah..................

Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang, aku yang dituntut membisu hanya bisa bersandar pada kerapuhanku sendiri. Maafkan aku menyayangimu, maafkan aku ingin mencintaimu sederhana, sesederhana aku menyayangi mencintai ibuku.

Sebersit senyum

Senyummu penghargaan terindah

Senyummu membuat rindu meresah

Senyummu diam dihatiku

Senyummu terjaga selalu

Senyummu semoga menyatukan diriku dan dirimu

Senyummu menjadi detik-detik yang kutunggu

Senyummu kehangatan jiwaku

Senyummu kuharap selalu

Bandung 30-11-2006

Selengkapnya......
 
@Copyright © 2007 `Anu Sok Ngoprek` PKPII Design by Boelldzh
sported by PKPII (Paguyuban Kader Pelajar Islam Indonesia) Bandung Raya
email; ekspiibdg[ET]gmail[DOT]com