Showing posts with label Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sosial. Show all posts

Wednesday, February 28, 2007

UIN

Cahaya sore di UIN Sunan kali jaga..

Oleh Ari Suciatno


Cahaya sore di UIN Sunan kali jaga..
Detik-detik terakhir.. Mungkin nanti? ingatkah itu!..
Dan kebodohan itu! dalam sebuah sejarah hidupku.. adalah saat aku meninggalkanmu.. Mungkin nanti? kau akan tau seberapa baiknya itu?!
Dan aku,.. biarkan jiwa dan roh cintaku terkikis oleh waktu yang menyayat-nyayat uluh hati dan pikiranku.. Demi kau dan kencantikan yang selalu ku simpan dalam dopetku.. Terima kasih atas segala waktu dan senyum manismu..
Ku tunggu sampai matiku.. Caci-makimu, dengan gumpalan kejengkelan, kebencian dan kekesalanmu..

maafkan aku..


Ari..

Selengkapnya......

Perut

Yang Penting Perut Isi
Oleh Ibn Ghifarie

Adalah para pejabat pemerintah yang telah terlalu lama merasakan penderitaan masyarakat kecil, karena semua ia berlatar wong cilik, hingga dengan seenaknya mereka berusaha memperkaya diri sendirinya.

Apalagi, saat mencalonkan diri sebagai pemimpin harus di tebus dengan pengorbanan materi yang melambung tingggi, maka wajar bila ia di kemudian hari berprilaku lalim.

Dengan demikian, yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukan lagi janji-janji bualan semata dengan tektek bengeknya, tapi bagai mana dapur mereka dapat ngepul. Pendek kata, yang penting perut isi, bung. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok PusInfoKomp, 20/12;22.36 wib

Selengkapnya......

Hujan Jadi Malapetaka

Kala Hujan Jadi Bencana
Oleh Ibn Ghifarie*

Musim hujan telah tiba. Di bagian dunia yang lain hujan merupakan berkat alam karena membasahi bumi dengan air yang menghidupkan. Di Indonesia, sebagian wilayah menikmati juga hujan sebagai berkat. Tetapi bagi sebagian besar wilayah ini hujan adalah bencana.

Karena itu, ketika musim hujan datang, datang pula malapetaka. Beberapa hari yang lalu 18 warga terkubur di Solok, Sumatra Barat (18/12), karena tanah longsor setelah hujan mengguyur. Di beberapa bagian Pulau Jawa hujan yang disertai angin puting beliung merontokkan rumah-rumah warga.
Di hari-hari mendatang selama musim hujan akan semakin pasti datangnya berita tentang bencana dalam berbagai wujud. Banjir, longsor, topan, gempa, tsunami, gagal panen dan sebagainya.

Musim bencana kali ini rupanya berawal dari Sumatra. Setelah longsor di Solok Senin malam, Pulau Sumatra diguncang gempa kuat. Sejumlah warga meninggal dan ratusan bangunan ambruk. Belum diketahui apakah gempa yang berpusat di Aceh dan Sumatra Barat itu berkaitan dengan datangnya musim hujan. (Media Indonesia, 19/12)

Lagi-lagi bencana terus silih berganti. Satu daerah korban keganasan alam belum selesai saat rekontruksi dan relokasi warga, nyatnya di belahan yang lain alam menunjukan ke kuatannya. Hingga negara Indonesia di buatnya kalangkabut dan berkali-kali menangis.

Mencermati maraknya bencana yang terus menerus mendera Bumi pertiwi, semuanya disebabkan keperkasaan alam, memang sungguh tidak bisa dicegah. Topan, tanah longsor, banjir, dan gempa bumi, misalnya, tidak mampu dihalangi manusia dengan teknologi apa pun.

Tak hanya itu, menegemen bencana pun hanya sebatas wacana semata. Padahal, alat cangih atau sistem peringatan sejak dini yang dapat mendeteksi malapetaka dalam kasus letusan gunung merapi, angin topan, tanah longsor dan gempa tsunami sangatlah di perlukan. Haruskah kehadiran sistem peringatan dini di tebus dengan beribu nyawa manusia tak berdosa?

Meskipun manusia tak dapat mencegah datangnya peristiwa tersebut. Namun, paling tidak, memiliki kemampuan untuk mengurangi dampak dari bencana.

Sudah tentu, semua kemurkaan alam itu berawal dari ulah tanagn lamim manusia dan kesombongannya. Hingga merusak sekaligus merauk keuntungan dari tatanan jagat raya ini.

Thus, buanglah sampah pada tempatnya dan mari melestarikan lingkungasn sekiranya. Tak lagi guna mencegah peristiwa yang tak di inginkan. Apalagi dengan tibanya musim hujan di penghujung tahun. Pasalnya, haruskah datangnya musih hujan berubah menjadi bencana? [Ibn Ghifarie]

*Penulis adalah Ulis (Juru Tulis) Paguyuban Kader Pelajar Islam Indonesia (PK-PII) Bandung Raya dan sedang menyelesaikan kuliah di Jurusan Studi Agama-Agama (PA) Fakultas Filsafat dan Teologi UIN (Universitas Islam Negeri) SGD (Sunan Gunung Djati) Bandung.


Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 19/12;08.25 wib

Selengkapnya......

Beras

Sentralisasi Beras
Oleh Ibn Ghifarie

Naiknya harga beras membuat sebagian masyarakat kecil pontang-panting. Pasalnya, harus kerja ekstra guna mendapatkan bahan pokok tersebut. Tak berakhir sampai disini, rebutan supaya mendapatakn padi pun tak terelakan lagi. Hingga, nasi aking pula menjadi obat mujarab kelaparan tersebut.


Tengok saja, di daerah Klaten kenaikan harga beras melonjak dratis mulai awal bulan ini. Kemarin, di Pasar Klaten beras Cisadane telah mencapai Rp5.000 per kilogram, Rojolele Rp5.500, Mamberamo Rp5.200, IR-64 Rp5.100, Umbuk Rp5.100, Menthik Wangi Rp5.300, dan beras ketan Rp7.000. (Media Indonesia, 16/12)


Konon, di Papua kenaikan harga beras tak terkendali, hingga mencapai 13.000,00-/kg (Metro,16/12). Sudah tentu, nerekalna harga beras juga berdampak pada harga bahan kebutuhan pokok (sembako) lainya.


Mencermati persoalan pelik itu, pemerintah hanya bisa mengelar pasar murah dan kualitasnya pun di pertanyakan. Benarkah permasalahan kemiskinan itu berawal dari kenaikan harga beras? atau Jangan-jangan ada sistem kearifan lokal yang tak terpikirkan sekaligus di tinggalkan oleh masyarakat akibat globalisasi dan kecangihan ilmu pengetahuan.


Yakni penduduk melupakan tatanan kehidupan pokok suatu daerah tertentu sebagai sumber makanan. Kini, sebagian besar masyarakat Mimika tak lagi akrab dengan makan khasnya (ubi-ubian), tapi semuanya makan beras, sebagai contoh. Padahal, daerah pingiran Irian itu penghasil terbesar biji-bijian. Nyatanya, mereka harus rela tak makan selama beberapa hari, hingga menelan banyak korban.


Ironis, sungguh ironis. Nusantara yang terkenal dengan subur makmur alamnya, malah menghasilkan kematian tingkat tinggi. Bak ayat mati di lumbung padi.


Dengan demikian, sentralisasi beras di Bumi Pertiwi ini, hanya dapat menghasil kesengsaraan dan kemiskinan yang akut dan tak kunjung selesai. [Ibn Ghifarie]


Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 17/12;14.17 wib

Selengkapnya......
 
@Copyright © 2007 `Anu Sok Ngoprek` PKPII Design by Boelldzh
sported by PKPII (Paguyuban Kader Pelajar Islam Indonesia) Bandung Raya
email; ekspiibdg[ET]gmail[DOT]com