Wednesday, February 28, 2007

Tafsir Cinta (2)

Di Persimpangan Jalan Entah Ke-2

Aku disini

Angin kecil mengayun kerinduan tentangmu

Terlihat wajah bercahaya menguak rindu dipesisir hatiku

Satu senyum kucuri dikejauhan kusimpan dalam hati

Mata yang indah penuh tandatanya

Mungkinkah kau lempar sapa tulus menjahit resah kerapuhan

yang membelit palung jiwa yang kini berserakan

sampai aku tak sanggup lagi menahan rindu

Disini ditemani sunyi penuh

bercumbu bayangmu pada pesona

sampai langit jiwa retak

lalu kucoba tafsir remang tentang perasaan

oleh ketulusan yang sedikit tersisa

aku yang jauh darimu

tapi aku dekat dengan cintamu

padamu disini aku penuh


Dipersimpangan jalan diujung hati perempuan itu, disana burung gereja belajar bernyanyi diatas genting hati, dia duduk bersama angin kecil membawa lagu tentang keindahan perasaan pada hidup yang terlalu pagi untuk dihinggapi, hari senyumilah burung itu sebagai tepuk tangan dengan hati yang lebih jeli yang sekarang belajar terbang menari bernyanyi bersama ayat-ayat rindunya, seperti puisi dan alunan musik biola yang menyat perih perasaanku.


Disana diujung do’a, warna warni pelangi dimusim hujan dipelihara asmara bersama mimpi dimusim kelam menghitam. Kucoba menyelusup ranah hatimu yang terjauh sampai kutiup seruling jiwa dengan kegugupan untuk tenangkan sepiku darimu. Dihamparan dadamu kuingin terus-menerus diam menyelinap kedasar tebing kalbu, bersama iringan lenting tinggi suara hati, jiwa penuh kesungguhan penuh keindahan tampa hayal dan bayang-bayangmu.


Dipangkuanmu aku ingin menangiskan semua rindu dipelukanmu aku ingin bercerita tentang jiwa yang resah memasrah tentang semua yang mengendap didada, aku ingin hijrah kepangkuan kalbumu, sambutlah kehampaan hatiku dan buka lebar jendela hati untuk aku berpijak dalam cinta dengan ketulusan dan ijinkanlah aku menari ditengah panggung dan iringi aku dengan irama musik cintamu agar tak sepi hidupku.

Aku yang

Kini kugantungkan rinduku

Padamu sambil merayap kucoba selami lautan kasihmu

Semoga tak kelam

Kini kucoba walu luka dan nyeri menguliti diriku sendiri

Dirimu adalah jiwamu

Yang sulit kutafsir seperti bebatuan malam

Yang menggantung dalam palung jiwaku

Sampai saraf dadaku mengejah kembali

Tentang asmara dibalik cintamu


Kau yang hingap, aku yang bergulat dengan andai-andai yang kini menjamah renung, memikir tentang entah yang kini bergetar, takbisa kulempar, bayangmu yang kini telah hinggap menjarah rimba batinku


ke-elokan wajahmu memancarkan cahaya terindah menyerang menyambuk, mendera hamparan dada yang kini disesaki dengan harapan yang bergantung seperti do’a yang takterkabul, dimalam kelam ayat-ayat harapan hanya berbuah air mata dingin yang sepi, yang sendiri, aku terpojok dalam sejarh hati seperti sampah disut-sudut malam ditemani remang cahaya lampu kelam dengan suara lenting tinggi jangkrik menghibur disaat sekarat rindu yang semakin merobek- robek.


Aku bersama malam membisu membatu, terhimpit rasa nyeri tapi aku tetap akan berusaha melukis bayangmu menjadi serpihan-serpihan kalimat, seperti nadi tersusun rapi disekujur bungkusan tubuh, ruangan kamar yang sesak dipenuhi tulisan-tulisan dengan tinta air mata sepiku yang kini didayung cintamu sampai resah menjemput, memahat kesungguhan dan tenggelam dilautan cintamu yang kini dibanjiri jeritan pilu, mengaduh-ngaduh seperti suara anak kecil yang tertusuk duri, anak kecil itu aku, dan duri itu harapanku padamu,


perempuan itu dirimu, kehadiran bayangmu adalah sebuah kompas petunjuk arah untuk aku berkiblat padamu, yang kini kupuja dengan panji-panji, syair-syair hasrat, melekat seperti ayat, doa, menempel kesungguhan kepasrahan keiklasan memanjat tangga iman agar tidak tersesat lagi diranah cinta yang selalu menyakitkan.


Kini aku menggugat pada tuhan, tuhan itu adalah dirimu sekarang dan kini aku tersesat kedalam jalanmu dipersimpangan sejarah hatiku, kau mengelakan kesungguhan do’a-do’a yang kini kusandarkan kepadamu, MENGAPA haya itu gugatanku yang kulempar kepada yang esa, setiap detik aku mencoba merayap dengan ketabahan, tapi sampai manakah ketabahan ini berhenti. Ketabahan di kejauhan kalbu, sampai aku pasrah dan, kata entah yang kini menyimpan lelah, harap, cemas cintamu.


Taukah kau, seandainya perasaan ini dapat bicara kan aku ucap padamu dengan beribu kesungguhan tentang aku yang mencintai mengharap sapa terindah dari kau pujan, aku yang kini, disini, sendiri bersama padatnya malam berbicara tentang nyeri perih rintih pada sepi yang menyambut sunyi menaburkan air mata dingin, sedingin hatimu kepadaku, dan harapanku kini hayalah mimipi-mimipi digelap yeng terlelap dikubur ditutup disembunyikan dibalik pikiranmu, menjadi kehancuran disisi senyummu, dipersimpangan tangisku pada detik memburu waktu semu, bisu, sepi, tuli, membuta, sedih, teramat sangat, taukah kau untuk mengobati piluku yang teramat ini harus dengan ukiran tulusmu, hanya satu yang kini dapat meluruskan sesatku, dirimu.

Kau sangat berharga

Satu bintang berkelip cahaya

Bersinar kearah bumi mati

Kutatap matamu, sorotnya kearah hati

Dada ini, bagaikan merapi berhaburan kawah panas

Diriku sesak, penuh dengan harap pada kerinduan yang mati

Yang menunggu terbelenggu

Diriku kini memusat pada arahmu

Tapi tak ada lagi selain berusaha

Mendongkrak perlahan dirimu yang membatu

Dengan doa dan ayat-ayat cinta

Demi kesungguhan

Aku menyukaimu penuh


Aku diam, aku menjerit disini tak ada yang mendengar aku harus tetap berjalan dengan sisa-sisa dera, kemana lagi kaki kutuju bumi kupijak langit aku jung-jung. Mata, kemana lagi kau memandang sapa dan senyum? kemana lagi harus aku lempar pikirku, yang kini hanya retak-retak bergurat dan lisan menjadi tulisan meninggalkan lidah yang berpesan mewakili sekujur tubuh merapuh lelah..................

Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang, aku yang dituntut membisu hanya bisa bersandar pada kerapuhanku sendiri. Maafkan aku menyayangimu, maafkan aku ingin mencintaimu sederhana, sesederhana aku menyayangi mencintai ibuku.

Sebersit senyum

Senyummu penghargaan terindah

Senyummu membuat rindu meresah

Senyummu diam dihatiku

Senyummu terjaga selalu

Senyummu semoga menyatukan diriku dan dirimu

Senyummu menjadi detik-detik yang kutunggu

Senyummu kehangatan jiwaku

Senyummu kuharap selalu

Bandung 30-11-2006

Selengkapnya......

Tafsir Cinta (1)

TAFSIR-TAFSIR RINDU DI PERSIMPANGAN JALAN ENTAH (edisi Revisi)

Oleh JS Kantara*

Untuk;______

Tuhan kecil.

Yang kuimani dalam persimpangan jalan

Dengan keangkuhan-nya, kuanggap sebuah cobaan pada peradaban rinduku

Dalam coret hitam sejarah hati yang busuk karena mengendap, dalam tongsampah penantian.

Rindu Disimpang Jalan Entah satu

Sejarah hati, aku ukir kembali pada nisan jantung berdebar, bergetar satu sapa senyum, kutafsir pesan samar tak dapat kupahat, palung jiwa retak hamparan dada merapuh keluh musim yang menggarang gersang dilidah pantai disisi gurun beramuk badai dipojok batu, sipengembala murung digulung bingung disudut garis penuh luka nyeri sampai tangis menjarah batin, tersentuh air mata ini tak terendap lagi, namun hati coba mengarifi agar asa tak menerjang jingga dalam lukisan jiwa keremangan, kata tulus kutulis dekat diatas tebing dibatu cadas, disudut penjuru mengaduk nyeri penuh aduh, disini sendiri bernyanyi sepi, sunyi, berdendang hening, malam di iringi tarian dedaunan yang dibungkus embun melengkapi pesta dipersimpangan jalan, entah, jejak-jejak sejarah hati yang kini semakin luka, kemana lagi berjalan aku kini, dipersimpangan jalan hanya digauli, entah.

Apa yang harus kutulis hari ini, pagi yang cerah meludahi aku dengan bayang-bayang semu, sembilu dalam debu berhamburan, seakan dijamah resah mengajak angin untuk bersahabat bersama kebebasan-nya, apa yang kupikir saat detik menjengkal risau, menyambuk, mendera, tentang waktu yang biasa dikenang atau dilupakan dalam angkuh dipergantian musim kerindun.

Doa, hanyalah menjadi tumpukan sampah, dan harapan seperti sejarah hitam yang bersaing dengan irama waktu yang bernada abadi, seperti ucap yang harus dipaksa menjadi prilaku, namun perasaan seakan harus menekan jingga memaksa pada sore, meyakinkan senja, pada magrib yang harus melempar kelam pada sudut hidup semu.

Suatu ayat ku-ungkap dianggap sepi, kutulis malam pada keretas senja seperti puisi, kubaca kuakrabi dengan jiwa dan mata hati yang sering menilai dengan keinginan sendiri, tapi sebuah jawab, harus belajar mengarifi realitas yang ada, seperti dedaunan kering kemuning, jatuh berguguran terlempar, terkapar, membusuk lelah ditengah rengatnya jalan aspal hitam memudar, terselip luka.

Hanya senyum, semoga kecewa cepat berlalu ditelan waktu walau tak tentu, mungkin hanya segumpal diam yang dapat mengendapkan semua rasa, seperti karang yang tetap teguh memaku menahan gelombang pasang.

Bandung 23-11-2006

Selengkapnya......

Hujan Jadi Malapetaka

Kala Hujan Jadi Bencana
Oleh Ibn Ghifarie*

Musim hujan telah tiba. Di bagian dunia yang lain hujan merupakan berkat alam karena membasahi bumi dengan air yang menghidupkan. Di Indonesia, sebagian wilayah menikmati juga hujan sebagai berkat. Tetapi bagi sebagian besar wilayah ini hujan adalah bencana.

Karena itu, ketika musim hujan datang, datang pula malapetaka. Beberapa hari yang lalu 18 warga terkubur di Solok, Sumatra Barat (18/12), karena tanah longsor setelah hujan mengguyur. Di beberapa bagian Pulau Jawa hujan yang disertai angin puting beliung merontokkan rumah-rumah warga.
Di hari-hari mendatang selama musim hujan akan semakin pasti datangnya berita tentang bencana dalam berbagai wujud. Banjir, longsor, topan, gempa, tsunami, gagal panen dan sebagainya.

Musim bencana kali ini rupanya berawal dari Sumatra. Setelah longsor di Solok Senin malam, Pulau Sumatra diguncang gempa kuat. Sejumlah warga meninggal dan ratusan bangunan ambruk. Belum diketahui apakah gempa yang berpusat di Aceh dan Sumatra Barat itu berkaitan dengan datangnya musim hujan. (Media Indonesia, 19/12)

Lagi-lagi bencana terus silih berganti. Satu daerah korban keganasan alam belum selesai saat rekontruksi dan relokasi warga, nyatnya di belahan yang lain alam menunjukan ke kuatannya. Hingga negara Indonesia di buatnya kalangkabut dan berkali-kali menangis.

Mencermati maraknya bencana yang terus menerus mendera Bumi pertiwi, semuanya disebabkan keperkasaan alam, memang sungguh tidak bisa dicegah. Topan, tanah longsor, banjir, dan gempa bumi, misalnya, tidak mampu dihalangi manusia dengan teknologi apa pun.

Tak hanya itu, menegemen bencana pun hanya sebatas wacana semata. Padahal, alat cangih atau sistem peringatan sejak dini yang dapat mendeteksi malapetaka dalam kasus letusan gunung merapi, angin topan, tanah longsor dan gempa tsunami sangatlah di perlukan. Haruskah kehadiran sistem peringatan dini di tebus dengan beribu nyawa manusia tak berdosa?

Meskipun manusia tak dapat mencegah datangnya peristiwa tersebut. Namun, paling tidak, memiliki kemampuan untuk mengurangi dampak dari bencana.

Sudah tentu, semua kemurkaan alam itu berawal dari ulah tanagn lamim manusia dan kesombongannya. Hingga merusak sekaligus merauk keuntungan dari tatanan jagat raya ini.

Thus, buanglah sampah pada tempatnya dan mari melestarikan lingkungasn sekiranya. Tak lagi guna mencegah peristiwa yang tak di inginkan. Apalagi dengan tibanya musim hujan di penghujung tahun. Pasalnya, haruskah datangnya musih hujan berubah menjadi bencana? [Ibn Ghifarie]

*Penulis adalah Ulis (Juru Tulis) Paguyuban Kader Pelajar Islam Indonesia (PK-PII) Bandung Raya dan sedang menyelesaikan kuliah di Jurusan Studi Agama-Agama (PA) Fakultas Filsafat dan Teologi UIN (Universitas Islam Negeri) SGD (Sunan Gunung Djati) Bandung.


Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 19/12;08.25 wib

Selengkapnya......

Beras

Sentralisasi Beras
Oleh Ibn Ghifarie

Naiknya harga beras membuat sebagian masyarakat kecil pontang-panting. Pasalnya, harus kerja ekstra guna mendapatkan bahan pokok tersebut. Tak berakhir sampai disini, rebutan supaya mendapatakn padi pun tak terelakan lagi. Hingga, nasi aking pula menjadi obat mujarab kelaparan tersebut.


Tengok saja, di daerah Klaten kenaikan harga beras melonjak dratis mulai awal bulan ini. Kemarin, di Pasar Klaten beras Cisadane telah mencapai Rp5.000 per kilogram, Rojolele Rp5.500, Mamberamo Rp5.200, IR-64 Rp5.100, Umbuk Rp5.100, Menthik Wangi Rp5.300, dan beras ketan Rp7.000. (Media Indonesia, 16/12)


Konon, di Papua kenaikan harga beras tak terkendali, hingga mencapai 13.000,00-/kg (Metro,16/12). Sudah tentu, nerekalna harga beras juga berdampak pada harga bahan kebutuhan pokok (sembako) lainya.


Mencermati persoalan pelik itu, pemerintah hanya bisa mengelar pasar murah dan kualitasnya pun di pertanyakan. Benarkah permasalahan kemiskinan itu berawal dari kenaikan harga beras? atau Jangan-jangan ada sistem kearifan lokal yang tak terpikirkan sekaligus di tinggalkan oleh masyarakat akibat globalisasi dan kecangihan ilmu pengetahuan.


Yakni penduduk melupakan tatanan kehidupan pokok suatu daerah tertentu sebagai sumber makanan. Kini, sebagian besar masyarakat Mimika tak lagi akrab dengan makan khasnya (ubi-ubian), tapi semuanya makan beras, sebagai contoh. Padahal, daerah pingiran Irian itu penghasil terbesar biji-bijian. Nyatanya, mereka harus rela tak makan selama beberapa hari, hingga menelan banyak korban.


Ironis, sungguh ironis. Nusantara yang terkenal dengan subur makmur alamnya, malah menghasilkan kematian tingkat tinggi. Bak ayat mati di lumbung padi.


Dengan demikian, sentralisasi beras di Bumi Pertiwi ini, hanya dapat menghasil kesengsaraan dan kemiskinan yang akut dan tak kunjung selesai. [Ibn Ghifarie]


Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 17/12;14.17 wib

Selengkapnya......

Asaz Tunggal

Menyibak Pergulatan Azaz Tunggal di Tubuh PII

oleh Admin

Asas tunggal Pancasila tidak lagi menjadi soal. PII mendaftarkan diri kembali di Departemen Dalam Negeri.

Sekitar 250 mantan aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia), yang rata-rata berusia setengah abad, berkumpul di Madrasah Tsanawiyah Negeri Desa Kanigoro, Kecamatan Keras, Kediri, Jawa Timur, 18-19 januari silam. Mereka menggelar reuni, sarasehan, sekaligus mengenang kembali Kanigoro Affair, yang terjadi 10 Ramadhan 32 tahun silam. Bendera hijau dan lambang-lambang PII pun kembali berkibar setelah cuti hampir 10 tahun.

Kanigoro Affair tercatat sebagai sebuah tonggak sejarah yang menandai munculnya gelombang amuk PKI dalam ikhtiarnya membungkam kekuatan nonkomunis. Program mental training yang diikuti 127 kader PII Jawa Timur, 9-17 januari 1965, di Kanigoro pun menjadi salah satu sasarannya. Massa PKI melabrak arena latihan kader-kader santri itu dan melakukan teror. Program organisasi PII itu pun terpaksa dihentikan pada 13 Januari (10 Ramadhan). Para peserta menyingkir.

Masduki Muslim, 55 tahun, ketua PII Kediri awal tahun 1960, mengaku telah lama merindukan reuni itu. “tapi kok ndak sempat-sempat,” kata Masduki, salah satu pemrakarsa pertemuan ini. Yang istimewa dalam acara tersebut, bendera dan simbol pii secara mencolok dikibarkan dan sejumlah pejabat hadir -di antaranya ialah Kepala Staf Kodam V Brawijaya Brigadir Jenderal Moechdi, Komandan Korem Surabaya Kolonel Syamsul Ma’arif, dan jajaran Musyawarah Pimpinan Daerah (MUSPIDA) Kabupaten Kediri.

Rupanya PII telah kembali menjadi anak « manis ». Organisasi pelajar islam ini telah mengubah anggaran dasarnya dengan mencantumkan Pancasila sebagai asasnya, dan mendaftarkan diri ke Departemen Dalam Negeri pada 9 Desember lalu,“ini melegakan. Semua peserta sarasehan menyambut gembira. Kami mengharap Pengurus Besar PII menindaklanjutinya agar PII kembali eksis,” kata Masduki.

Sebelas tahun lalu, PII adalah salah satu dari sejumlah organisasi berlabel Islam yang menolak pelaksanaan asas tunggal Pancasila yang diamanatkan Undang-Undang Keormasan 1985. Tapi satu demi satu organisasi-organisasi itu menerima asas tunggal, termasuk di antaranya Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), yang kendati alot akhirnya menyetujui UU Keormasan itu. PII terus bertahan. Sampai tenggat yang digariskan oleh Pemerintah, yakni akhir 1987, PII tetap enggan mengubah anggaran dasar dan rumah tangganya dengan mencantumkan Pancasila sebagai asas organisasi. Keruan saja organisasi pelajar islam itu terhapus dari daftar organisasi kemasyarakatan resmi di departemen dalam negeri. Tapi PII tak pernah bubar.

Tanpa status sebagai organisasi resmi, roda organisasi PII tentu tersendat. Kantor wilayah PII Jawa Timur di jalan Kupang Panjaan, Surabaya, tampak rombeng. Ketua PII Jawa Timur Mohammad Soddiq mengakui tak tahu jumlah anggotanya. Sejak terpilih maret tahun lalu, ia baru sempat menggelar satu kegiatan, yakni “latihan kepemimpinan” di Sumenep, Madura. Untuk kegiatannya, Soddiq merasa tak bisa meminta izin dari aparat keamanan. “Kami harus diam-diam, kadang nebeng kegiatan NU, Muhammadiyah, atau Al Irsyad,” kata mahasiswa fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam (FMIPA) ITS Surabaya itu. Jumlah cabang PII pun merosot. Sebelum 1987 ada 37 cabang PII di Jawa Timur. ‘’Kini cuma ada 20 buah, dan di situ yang aktif cuma pengurusnya,” kata Soddiq.

Suasana di kantor pengurus besar PII pun - yang menghuni satu ruang kusam 7 x 8 meter pada satu bangunan tua di jalan Menteng Raya, Jakarta - kurang lebih sama memprihatinkan. Dua buah komputer desktop generasi pertama menjadi satu-satunya barang berharga di kantor itu. Tapi ketua umum pengurus besar PII Abdul Hakam Naja, 30 tahun, kini tampak optimistis. “Kami kini sudah bisa berkiprah kembali,”katanya. Selama 10 tahun belakangan, menurut sarjana biologi kelautan lulusan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu, PII tetap eksis kendati kiprahnya meredup. Bahkan sempat melakukan tiga kali muktamar. Pada muktamar di bogor 1994, PII memutuskan untuk menerima UU keormasan dan mendaftar ke Departemen Dalam Negeri.

Mengapa akhirnya PII menerima asas tunggal? dulu, 1987, memang tidak ada satu pendapat di antara kami. Ketika itu umat islam dalam keadaan yang kurang menguntungkan, kata Abdul Hakam. Setelah suasana yang tak menguntungkan itu dianggap berlalu, muktamar pii merasa tak perlu lagi merisaukan ketentuan tentang asas tunggal tersebut. Maka sebagai fungsionaris yang membawa amanat muktamar, Abdul Hakam melakukan konsolidasi kanan-kiri. Hasilnya, dukungan agar PII menerima asas tunggal. Walhasil, Abdul Hakam pun mendaftarkan PII ke Departemen Dalam Negeri, dan disambut dengan baik.

Sejak lahir hampir 50 tahun lalu, PII dikenal sebagai organisasi yang tertata baik. PII pula yang menjadi pemasok kader bagi abangnya, HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia). Sejumlah alumni PII pun tercatat menduduki posisi penting dalam masyarakat, di antaranya Tanri Abeng (eksekutif di grup Bakrie), Taufiq Ismail (penyair), dr. Imaduddin (tokoh ICMI), Mayor Jenderal Cholid Gozali (anggota fraksi ABRI di DPR-RI), dan Mayor Jenderal (purnawirawan) Z. A. Maulani, Alm. mantan Panglima Kodam Tanjungpura, mantan pengamat politik terkemuka.



Di kutip dari: Pth, genot widjoseno, dan saiful anam. Nomor 12/iii, 8 februari 1997

Selengkapnya......

PII Wati

Mengeja PII Wati
Oleh Admin


Latar Belakang

Pada awalnya gagasan Korps PII Wati lahir di Training Centre Keputerian PII se-Indonesia yang dilaksanakan pada tanggal 20-28 Juli 1963 di Surabaya. Suasana duka sangat mempengaruhi TC karena GPII baru saja dibubarkan (10 Juli 1963) dan ditambah bayang-bayang suram mengenai kemungkinan menyusulnya “pembubaran PII”. TC Keputerian tersebut diikuti oleh peserta dari PB, utusan wilayah-wilayah se-Jawa, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, serta dipandu oleh bagian Kader PB PII (Muhammad Husni Thamrin, Hidayat Kusdiman, dan E. Basri Ananda).

Mengingat latar belakang yang heterogen, peserta training dibagi dalam tiga kelompok/group. Dalam TC berkembang kesadaran kuat untuk meningkatkan peranan dan kualitas kader / kepemimpinan PII Wati, serta menghapus citra negatif peran sebagai sekedar “etalage” atau “pengelola konsumsi”. Sementara fakta dan realita menunjukan bahwa kesempatan bagi puteri untuk mengembangkan diri dan berjuang di PII relatif lebih terbatas dan pendek. Beberapa peserta dari kelompok I (group Aisyah) yang terdiri dari Sri Samsiar (PB PII), Habibah Idris (PB PII), Chaerani Suty (Sumatra Utara), St Robiatun (Jogjakarta), Tuti Gitoatmodjo (Jawa Tengah), Nur Zahara Ansori (Sumatra Selatan), merumuskan gagasan pembentukan suatu wadah alternatif yang diharapkan mampu memacu / mempercepat proses kaderisasi kepemimpinan puteri yang selama ini banyak hambatannya. Inilah embrio gagasan mengenai Korps PII Wati, meski wujud konkrit lembaganya belum sempat dibicarakan lebih lanjut dalam TC itu. Realisasi gagasan itu kemudian dipelopori oleh bagian keputrian PW PII Jogjakarta Besar, yang membentuk Korps PII Wati Jogjakarta Besar pada akhir 1963.

Dalam sidang keputerian Muktamar PII X bulan Juli 1964 di Malang, disajikan 2 (dua) prasaran yang mengantarkan terbentuknya secara resmi Lembaga Korps PII Wati. Pertama dari PB PII oleh Sri Samsiar, dan kedua dari bagian keputerian PW PII Jogjakarta Besar yaitu St. Wardanah AR, Masyitoh Sjafei dan Hafsah Said.

Tujuan Pembentukan

Apa yang ingin diwujudkan oleh Korps PII Wati dirumuskan dengan singkat dalam tujuannya yaitu: ”Terbentuknya pribadi wanita Islam yang konsekwen terhadap prinsip-prinsip Islam” (Peraturan Dasar Pasal III).
Adapun kondisi yang melatarbelakangi lahirnya Korps PII Wati tersirat dalam Muqadimah Peraturan Dasar Korps PII Wati :
  • Bahwa perkembangan hidup dan prikehidupan umat Islam Indonesia di dalam menuju ‘Izzul Islam wal Muslimin telah sampai suatu taraf di mana Pelajar Islam Indonesia (PII) sebagai kader Revolusi dan Kader Umat Islam memegang peranan penting dan utama didalamnya.
  • Bahwa dalam mengemban amanat tersebut, tidak berbeda tugas dan tanggung jawab antara Putra dan Puteri, kecuali sesuai dengan fitrahnya masing-masing.
  • Bahwa PII di dalam melaksanakan kewajiban tersebut, besarlah peranan PII Wati di dalamnya. Peranan ini perlu dipelihara, dikembangkan, dan dikekalkan, dengan menciptakan konkritisasi, harmonisasi, dan kristalisasi daripada warganya,…” (Prt Dasar Korps PII Wati, 1964).

Pembentukan Korps PII Wati tidaklah dimaksudkan untuk memisahkan diri dari PII atau memisahkan PII-wan dan PII-wati secara organisatoris, seperti yang terjadi antara IPNU dan IPPNU. Hal ini ditegaskan dalam memori Penjelasan :
“Dengan terbentuknya lembaga baru ini yang anggota dan pengurusnya adalah Khusus Puteri, sama sekali bukan untuk memisahkan diri dari anggota PII pun lebih dari organisasi PII secara keseluruhan. Tetapi dalam hal ini hanya terbatas akan spesialisasi penggarapan anggota. Diharapkan dengan adanya lembaga ini PII Wati akan mendapatkan kesempatan yang cukup banyak, kesempatan untuk mengembangkan bakat, kesempatan untuk berlatih, merasakan dan melaksanakan tanggungjawab, kesempatan untuk berdiri sendiri tanpa pengharapkan bantuan orang lain, sehingga dari wadah ini akan menghasilkan puteri-puteri Islam yang militan dan konsekwen terhadap prinsip-prinsip Islam”.(Memori Penjelasan Peraturan Dasar Korps PII Wati, 1964).

Status Korps PII Wati adalah merupakan Badan Otonom dari bagian keputerian dalam kepengurusan PII, dan Ketua Bagian Keputerian langsung menjadi Ketua Korps PII Wati. Masa jabatan Korps PII Wati sesuai dengan masa jabatan pengurus PII yang setara (Prt Dasar Pasal IV dan IX). Selanjutnya, lembaga Korps PII Wati mempunyai kekuasaan penuh kedalam, sedang ke luar dilakukan oleh pengurus PII Bagian Keputerian. Di tiap-tiap kota hanya diperkenankan adanya Korps PII Wati yang dibentuk oleh instansi tertinggi yang ada di kota tersebut. (Memori Penjelasan Pasal IV dan V).

Rapat Pleno PB PII pertama periode 1964-1966 yang dilangsungkan pada tanggal 6 September 1964, selain menetapkan Program Umum PII, antara lain juga menugaskan Sri Samsiar selaku Ketua IV untuk mengkoordinir Bagian Keputerian PB PII dan menindaklanjuti pembentukan Korps PII Wati sebagai Keputusan Muktamar X.

Susunan Personalia Bagian Keputerian PB PII Periode (1964-1966) pada awalnya terdiri dari :
Ketua : St Habibah Idris
Wakil Ketua : Mismar Chatib Salami BA (kemudian menikah dan mengudurkan diri)

Banyak sekali kendala dalam proses pembentukan Korps PII Wati di ibukota, karena sulitnya mengakomodasi semua potensi PII Wati di DKI Jakarta, baik PB, Wilayah maupun Cabang, sementara kondisi di ibukota sendiri sangat kompleks. Namun akhirnya Korps PII Wati Jaya berhasil dibentuk dengan ketua yang pertama St. Habibah Idris (Ketua Bagian Keputerian PB PII), dan dilantik oleh PB PII pada tanggal 15 November 1964.

Selengkapnya......

Brigade PII

Kilas Balik Brigade

Ditulis Oleh Korpus Brigade PII periode 2004-2006

PII dan Brigade PII pada saat timbulnya , adalah sebagai salah satu kesatuan yang tidak dapat dipisah – pisahkan, keduanya adalah anak kembardari pergerakan revolusi 45 dengan tugasnya masing – masing yang tumbuh dengan sendirinya dan bukan karena dibuat-buat apalagi dipaksakan.

Sebagaimana kita dapat memahami dari namanya, Brigade PII, berbentuk klasykaran / ketentaraan, ia merupakan salah satu dari pasukan rakyat yang berjuang melawan penjajah. Brigade PII berjuang saling bahu membahu dengan saudara perjuangan lainnya seperti : TKR ( Tentara Keamanan Rakyat ), TRI Hizbullah, BPRI ( Baris dan Pemberontakan RI ), TRIP ( Tentara Republik Indonesia Pelajar Jawa Timur ) Sabilillah, Tentara pelajar ketentaraan IPPI, TPI ( Tentara Pelajar Islam Aceh ), CM Corps – Mahasiswa, CP ( Corps Pelajar Solo ) dan lain sebagainya.

Jika melihat saat peresmiannya lahir dari Brigade PII, dibandingkan dari lainnya emang agak terlambt secara Administratif lahir tahun 1947, sedangkan oknum-oknumnya sudah berjuang jauh sebelumnya, yang menamakan dirinya Pelajar / Brigade Pelajar, tetapi bukan berarti semangat jihad dan pejuang pelajar + mahasiswa ketinggalan.

Brigade PII bukan pahlawan kesiangan, walau peresmian sudah agak terlambat dua tahun, sebagai mana telah dilontarkan orang-orang yang ingin menghilangkan hak hidup Brigade PII pada waktu itu, berkat pengakuan dari saudara – saudaranya dalam perjuangan fisik Brigade PII mempunyai saudara kembarnya yaitu TPI ( Tentara Pelajar Islam Aceh ), dengan anggotanya sebanyak 12 000 dan langsung dibawah komando Korpus Brigade PII ( pada waktu itu komando dipegang oleh Abdul Fatah Permana ). Diantara pimpinan TPI Aceh ialah Hasan Bin Sulaiman, Hamzah SH, Ismail Hasan Matarem SH.

Selengkapnya......
 
@Copyright © 2007 `Anu Sok Ngoprek` PKPII Design by Boelldzh
sported by PKPII (Paguyuban Kader Pelajar Islam Indonesia) Bandung Raya
email; ekspiibdg[ET]gmail[DOT]com